JUM'AT (29/8/2025) siang, terik matahari tidak menyurutkan langkah puluhan mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Jambi Melawan. Dengan membawa spanduk dan suara lantang, mereka berdiri di depan gedung megah DPRD Provinsi Jambi. Awalnya, orasi bergema dengan semangat, menyuarakan keresahan dan tuntutan. Namun, suasana yang semula penuh energi itu mendadak berubah menjadi tegang.
Pantauan di lapangan, kericuhan pecah ketika mahasiswa berusaha memaksa masuk ke gedung DPRD. Pagar yang menjadi pembatas antara aspirasi dan kekuasaan itu akhirnya roboh. Kayu-kayu panjang beterbangan, sebagian mengenai kaca jendela gedung hingga pecah berderai. Suara dentuman kaca pecah bersahut-sahutan dengan teriakan massa yang kian emosional.
Bagi warga sekitar yang menyaksikan, momen itu bak adegan dramatis. Gedung wakil rakyat yang biasanya berdiri tenang, kini berubah menjadi arena bentrokan. Asap mulai memenuhi udara ketika aparat kepolisian menembakkan gas air mata. Mahasiswa yang awalnya berbaris rapi mulai terpencar, sebagian berusaha menahan pedih di mata, sebagian lagi berlari menyelamatkan diri.
Namun, tidak hanya mahasiswa yang menjadi korban. Dari informasi yang dihimpun, ada aparat kepolisian yang turut terluka dalam insiden itu. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Kericuhan ini menorehkan jejak: pagar gedung yang rusak, kaca jendela yang pecah, dan suasana mencekam yang membekas di ingatan banyak orang. Pertemuan antara aspirasi dan kekuasaan kembali menyisakan cerita klasik: suara yang ingin didengar, namun sering berujung pada benturan.
Di balik kaca yang pecah dan bau gas air mata yang masih menyengat, tersimpan pertanyaan besar: apakah suara mahasiswa benar-benar akan sampai ke ruang sidang DPRD, atau justru terkubur di balik tembok yang kini retak?