Prof Dr Ansori S.Pd.I, M.Pd.I
MUARA BULIAN, bungopos.com - Fajar belum sepenuhnya pecah ketika seorang mahasiswa muda berjalan memasuki kebun karet.
Udara masih dingin. Embun menggantung di dedaunan. Di antara barisan pohon yang sunyi, ia membawa sebilah pisau sadap. Satu demi satu batang karet ia gores dengan tangan yang terlatih. Dari luka tipis pada kulit pohon itu, tetesan getah mulai mengalir perlahan ke dalam mangkuk-mangkuk kecil.
Beberapa jam kemudian, pekerjaan itu berganti.
Ia berada di lokasi penggergajian kayu, menggenggam mesin sinso yang berat. Deru mesin memecah kesunyian, sementara serpihan-serpihan kayu beterbangan memenuhi udara. Menjelang sore, tubuhnya dipenuhi debu, telapak tangannya mengeras, dan tenaga hampir habis.
Namun hari belum selesai.
Saat hari-hari lainnya dia kembali menjadi mahasiswa. Buku-buku kuliah dibuka. Catatan ditulis. Tugas dikerjakan hingga larut. Ini dilakoninya saat kuliah sarjana hingga semester empat. Sungguh, sebuah perjalanan yang sangat menggetarkan.
Demikianlah kehidupan Prof. Dr. Ansori, S.Pd.I., M.Pd.I. pada tahun-tahun awal kuliahnya.
Perjalanan menuju gelar profesor tidak dimulai di ruang seminar atau laboratorium penelitian. Perjalanan itu dimulai dari kebun karet, dari suara mesin sinso, dan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan yang dapat mengubah nasib seseorang.
Tahun 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan tersebut.
Melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 040847/MA/KP.07.6/05/2026, Ansori resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Kepakaran Manajemen Pendidikan Islam, sekaligus menjadi guru besar pertama pada bidang kepakaran tersebut di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam se-Provinsi Jambi.
Bagi dunia akademik, pengangkatan itu merupakan pencapaian ilmiah yang prestisius. Bagi Ansori sendiri, keputusan itu lebih menyerupai garis akhir dari sebuah perjalanan panjang yang dibangun sedikit demi sedikit, selama puluhan tahun.
Hari ini ia menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Batang Hari (UNISBA). Tetapi mereka yang mengenalnya mengatakan, jabatan itu tidak pernah mengubah caranya memperlakukan orang lain.
Jalan yang Tidak Pernah MudahPerjalanan Ansori lebih mudah dipahami melalui daftar pekerjaan yang pernah ia lakukan.
Pada empat semester pertama kuliah strata satu, keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya harus bekerja agar tetap dapat membayar biaya pendidikan. Tidak ada pilihan selain membagi waktu antara mencari nafkah dan mengejar ilmu.
Pagi hari digunakan untuk menyadap karet.
Ketika pekerjaan itu selesai, ia berpindah membantu menggesek batang-batang kayu menggunakan mesin sinso. Upah dari pekerjaan itulah yang perlahan membantu membiayai kehidupan dan pendidikan.
Tidak ada yang romantis dari pekerjaan tersebut.
Ada rasa lelah yang datang setiap hari. Ada tangan yang terluka. Ada pakaian yang dipenuhi getah karet dan serbuk kayu. Ada hari-hari ketika tubuh meminta beristirahat, sementara cita-cita memintanya terus berjalan.
Namun justru dari pekerjaan-pekerjaan sederhana itulah Ansori belajar sesuatu yang tidak selalu diajarkan di ruang kuliah: kesabaran, disiplin, dan ketahanan.
Ia memahami bahwa hasil besar hampir selalu lahir dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan berulang kali, tanpa banyak disaksikan orang.
Gelar Tidak Menghapus Masa LaluKetika seseorang mencapai jabatan akademik tertinggi, sering kali orang hanya melihat toga dan pidato pengukuhan.
Yang jarang terlihat adalah perjalanan sebelum semua itu terjadi.
Ansori tidak pernah berusaha menyembunyikan masa lalunya. Sebaliknya, ia kerap menjadikannya sebagai pengingat bahwa keberhasilan tidak datang secara tiba-tiba.
Rekan-rekannya menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang tetap sederhana meskipun telah mencapai posisi yang tinggi.
Ia dikenal mudah ditemui, tidak menciptakan jarak dengan mahasiswa maupun staf, dan lebih sering mendengarkan daripada berbicara.
Sikap itu, menurut mereka, lahir dari pengalaman hidup yang panjang.
Orang yang pernah merasakan sulitnya mencari biaya kuliah cenderung memahami arti kesempatan. Orang yang pernah bekerja dengan tangan sendiri biasanya lebih menghargai kerja keras orang lain.
Sebuah Pengakuan, Bukan Garis AkhirJabatan guru besar sering dianggap sebagai puncak karier akademik.
Bagi Ansori, pencapaian itu tampaknya lebih merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Sebagai Rektor Universitas Islam Batang Hari, ia kini memimpin pengembangan institusi, mendorong peningkatan kualitas pendidikan, memperkuat penelitian, dan memperluas pengabdian kepada masyarakat.
Tantangan yang dihadapinya berbeda dari masa ketika ia menyadap karet.
Tetapi prinsip yang membimbingnya tetap sama: pekerjaan besar hanya dapat diselesaikan melalui ketekunan yang dilakukan setiap hari.
"Beliau Pejuang Tangguh"Mereka yang bekerja bersama Ansori melihat konsistensi itu dalam kesehariannya.
Wakil Rektor III Universitas Islam Batang Hari, Dr. Iwan, M.Pd., menggambarkan sosoknya dengan kalimat yang sederhana.
"Beliau pejuang tangguh yang tak kenal lelah dalam mewujudkan cita-cita."
Kalimat itu mungkin terdengar singkat.
Namun bagi orang-orang yang mengetahui perjalanan hidup Ansori, kalimat tersebut terasa cukup untuk menjelaskan puluhan tahun perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Sebuah Kisah yang Melampaui Satu OrangKeberhasilan Prof. Dr. Ansori menjadi guru besar pertama dalam bidang Kepakaran Manajemen Pendidikan Islam di lingkungan PTAIS se-Jambi memiliki arti penting bagi perkembangan pendidikan tinggi Islam di daerah.
Namun nilai terbesar dari kisah ini mungkin tidak terletak pada gelar yang kini berada di depan namanya.
Nilai terbesar itu justru berada pada pesan yang ditinggalkannya.
Bahwa seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaan pertamanya.
Bahwa tangan yang pernah menggores batang karet dan menggenggam mesin sinso dapat pula menulis karya ilmiah, memimpin sebuah universitas, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Di dunia yang sering mengukur manusia dari titik akhirnya, perjalanan hidup Prof. Ansori mengingatkan bahwa yang paling membentuk seseorang justru adalah langkah-langkah kecil yang diambil ketika tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikan. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com