JANGAN HANCURKAN MASA DEPAN MEREKA : Anak-anak sedang asyik bermain-main

Generasi Emas Terancam? Hampir Satu dari Sepuluh Anak Indonesia Alami Gangguan Mental

Posted on 2026-06-27 07:18:12 dibaca 71 kali

JAKARTA, bungopos.com – Di balik senyum dan keceriaan anak-anak Indonesia, tersimpan sebuah persoalan yang patut menjadi perhatian bersama. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: hampir 10 persen anak Indonesia menunjukkan indikasi mengalami gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Anak-anak yang tumbuh dengan kondisi mental yang sehat akan lebih siap belajar, berprestasi, dan membangun masa depan bangsa.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, menyampaikan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah mengikuti skrining kesehatan, ditemukan angka yang cukup signifikan.

Sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala gangguan kecemasan (anxiety disorder). Sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak terindikasi mengalami gangguan depresi (depression disorder).

"Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali," ujar Budi.

Kesehatan Mental Anak Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Menurut Menteri Kesehatan, persoalan kesehatan mental pada anak tidak dapat dipandang sebagai masalah individu semata. Kondisi psikologis seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pergaulan sehari-hari.

Karena itu, penyelesaiannya pun harus dilakukan secara menyeluruh. Orang tua, guru, tenaga kesehatan, hingga masyarakat perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi anak-anak.

Budi menegaskan bahwa yang perlu diperbaiki bukan hanya kondisi psikologis anak, tetapi juga pola pengasuhan di rumah dan iklim pembelajaran di sekolah.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan keterampilan hidup (life skills) dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) agar setiap individu mampu menghadapi tekanan hidup secara sehat.

"Setiap orang pasti menghadapi tekanan dalam hidup. Yang membedakan adalah bagaimana kita merespons tekanan tersebut dengan cara yang tepat," jelasnya.

Ancaman yang Tidak Boleh Diabaikan

Temuan ini semakin penting mengingat meningkatnya angka percobaan bunuh diri pada anak dan remaja di Indonesia.

Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan bahwa persentase anak yang pernah mencoba bunuh diri meningkat tajam, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Angka tersebut menjadi peringatan bahwa kesehatan mental bukan lagi isu yang bisa dipandang sebelah mata, melainkan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Pemerintah Perluas Skrining Hingga 25 Juta Anak

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kesehatan menargetkan perluasan Program Cek Kesehatan Gratis sehingga dapat menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa setiap hasil skrining akan ditindaklanjuti oleh Puskesmas agar anak yang membutuhkan pendampingan dapat segera memperoleh layanan yang sesuai.

Pemerintah juga terus memperkuat layanan kesehatan jiwa dengan menambah jumlah psikolog klinis di Puskesmas. Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 203 psikolog klinis yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Selain itu, masyarakat juga dapat mengakses layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id, yang disiapkan sebagai layanan pendampingan dan intervensi cepat bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan psikologis.

Sekolah Menjadi Garda Terdepan

Di lingkungan pendidikan, guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru kelas didorong untuk berperan aktif dalam mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan mental pada peserta didik.

Sekolah diharapkan menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita, mendapatkan dukungan emosional, serta tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik maupun mental.

Deteksi dini yang dilakukan di sekolah menjadi langkah penting agar masalah psikologis dapat ditangani sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Kolaborasi Lintas Kementerian Demi Masa Depan Anak Indonesia

Komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan mental anak semakin diperkuat melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan kementerian dan lembaga.

Kolaborasi tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, serta Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Melalui kerja sama ini, pemerintah membangun sistem perlindungan kesehatan jiwa anak secara terintegrasi, mulai dari upaya promotif dan preventif, hingga pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Pemerintah juga memastikan bahwa seluruh data pribadi anak yang mengikuti skrining dijaga kerahasiaannya untuk mencegah stigma dan diskriminasi.

Investasi Terbaik untuk Indonesia Emas

Kesehatan mental bukan sekadar persoalan medis, melainkan fondasi utama bagi lahirnya generasi yang cerdas, tangguh, dan berkarakter. Anak yang merasa didengar, dihargai, dan dicintai akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Karena itu, menjaga kesehatan mental anak bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Dengan kepedulian keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, Indonesia dapat melahirkan generasi yang sehat lahir dan batin sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.kemkes.go.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com