Mohd Haramen

Islam Obor Peradaban, Kritik Atas Pawai Obor 1 Muharram

Posted on 2026-06-17 11:51:40 dibaca 88 kali

Oleh:  Mohd Haramen

Setiap memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram, berbagai daerah di Indonesia menggelar pawai obor. Ribuan anak-anak, remaja, dan masyarakat berjalan beriringan membawa obor sambil melantunkan shalawat dan takbir. Tradisi ini telah menjadi bagian dari ekspresi budaya Islam Nusantara yang sarat makna kebersamaan dan syiar keagamaan.

Namun demikian, di tengah kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan kritis: apakah pawai obor telah mampu menghadirkan semangat hijrah yang sesungguhnya, atau justru berhenti pada simbolisme seremonial semata ?

Kalau dilihat literatur Sejarah Islam, ternyata pawai obor 1 Muharram itu tidak ditemukan. Sejumlah penelitian budaya menunjukkan bahwa pawai obor merupakan tradisi lokal Nusantara yang kemudian diintegrasikan dengan perayaan Islam. Dalam penelitian Ridianto berjudul Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Pawai Obor 1 Muharram, disebutkan bahwa tradisi pawai obor telah berkembang di masyarakat Indonesia sejak sekitar tahun 1940-an.

Seiring perkembangan zaman, tradisi pawai obor ini patut ditinjau ulang. Karena khawatirnya, imej dikalangan generasi muda, Islam terbelakang dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Padahal Islam lebih dulu menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan dan menghasilkan banyak penemuan-penemuan modern. Ada baiknya tradisi pawai ini diganti dengan pawai lampion atau pernak pernik lampu modern portable. Sehingga nampak kerlap kerlib yang sangat memukau. Terlebih dilakukan pada arakan di malam 1 Muharram.

Muharram dan Makna Hijrah yang Sering Terlupakan

Dalam sejarah Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis. Hijrah merupakan transformasi besar dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan peradaban. Dari peristiwa hijrah lahirlah masyarakat Madinah yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, keadilan sosial, persaudaraan, dan tata kelola pemerintahan yang beradab.

Karena itu, memperingati 1 Muharram seharusnya tidak hanya diwujudkan melalui arak-arakan obor, tetapi juga menjadi momentum evaluasi umat terhadap kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, kemajuan ekonomi, dan kontribusi sosial.

Jika umat Islam hanya berfokus pada seremoni tahunan tanpa upaya membangun tradisi intelektual, maka esensi hijrah berpotensi kehilangan makna substansialnya.

Ketika Dunia Islam Menerangi Peradaban Dunia

Sejarah mencatat bahwa selama kurang lebih lima abad, dunia Islam menjadi pusat kemajuan ilmu pengetahuan global.

Para sejarawan seperti Marshall G. S. Hodgson dalam The Venture of Islam dan Jonathan Lyons dalam The House of Wisdom menjelaskan bahwa sejak abad ke-8 hingga abad ke-13, peradaban Islam mengalami masa keemasan yang luar biasa.

Pada masa ini berdiri berbagai pusat ilmu pengetahuan seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad, universitas di Cordoba, Kairo, dan Damaskus.

Sejumlah ilmuwan Muslim memberikan kontribusi besar bagi dunia:

  1. Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi mengembangkan ilmu aljabar yang menjadi dasar matematika modern.
  2. Ibn Sina menulis Al-Qanun fi al-Tibb yang menjadi rujukan kedokteran Eropa selama berabad-abad.
  3. Al-Biruni melakukan penelitian astronomi dan geografi yang melampaui zamannya.
  4. Ibn al-Haytham meletakkan dasar metode eksperimen ilmiah.
  5. Ibn Khaldun merumuskan teori sosial dan ekonomi jauh sebelum lahirnya ilmu sosial modern.

Menurut banyak sejarawan, rentang waktu sekitar tahun 750–1258 M sering disebut sebagai puncak kejayaan intelektual Islam. Pengaruhnya bahkan berlanjut hingga abad ke-15 melalui pusat-pusat ilmu di Andalusia dan dunia Ottoman.

Dalam buku The History of the Medieval World, Susan Wise Bauer menjelaskan bahwa pada masa tersebut tingkat literasi masyarakat Eropa relatif rendah, akses pendidikan sangat terbatas, dan aktivitas ilmiah belum berkembang sebagaimana di dunia Islam.  Sementara itu, perpustakaan-perpustakaan Islam di Baghdad, Cordoba, dan Kairo telah menyimpan ratusan ribu manuskrip ketika banyak wilayah Eropa bahkan belum memiliki sistem pendidikan yang mapan.

Sejarawan George Sarton bahkan menyebut abad-abad tertentu dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia sebagai "era ilmuwan Muslim" karena dominasi kontribusi mereka terhadap perkembangan sains global.

Ironisnya, ketika umat Islam dahulu menjadi pelopor ilmu pengetahuan, sebagian umat Islam saat ini justru lebih sering menghabiskan energi pada perdebatan simbolik dan kegiatan seremonial daripada membangun budaya membaca, meneliti, dan berinovasi.

Kritik terhadap pawai obor bukan berarti menolak tradisi atau melarang masyarakat merayakan Tahun Baru Islam. Tradisi memiliki nilai sosial dan budaya yang penting dalam memperkuat identitas komunitas. Namun kritik tersebut perlu dipahami sebagai ajakan untuk melakukan refleksi.

(Penulis adalah Pengarang Buku Membumikan Ekonomi Syariah

Penulis: Mohd Haramen
Editor: Arya Abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com