ILUSTRASI : Harga bbm dunia melonjak

Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Diminta Genjot Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati

Posted on 2026-04-02 19:28:17 dibaca 45 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Di tengah situasi geopolitik serta ancaman kemarau panjang akibat El Nino membuat pemerintah akan kesulitan memenuhi kebutuhan pasokan sumber energi BBM di dalam negeri. Hal ini dipengaruhi dengan penutupan aktivitas di Selat Hormuz sedangkan kebutuhan minyak tanah Indonesia masih bergantung dari impor di kawasan Timur Tengah sekitar 20-25 persen.

Guru Besar Fakultas Teknik UGM Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., menyoroti kerentanan ketahanan energi Indonesia yang hanya mampu bertahan selama 20 hingga 22 hari tanpa pasokan baru. Padahal kebutuhan minyak di Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari tetapi produksi minyak hanya mencapai 600 ribu barel per hari. Sehingga Indonesia memiliki ketergantungan terhadap impor minyak yang digunakan pada berbagai sektor terkait. “Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial,” katanya, Kamis (2/4).

Deen mengapresiasi langkah antisipasi yang sedang dilakukan pemerintah dalam menghadapi krisis energi saat ini dengan penggunaan energi terbarukan. Misalnya, menerapkan kebijakan B50 yaitu pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada solar sehingga akan mengurangi kebutuhan impor solar. Kebijakan ini sudah ditetapkan dan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Menurutnya, beberapa kebijakan seperti penerapan Work From Home (WFH) perlu dikaji lebih dalam lagi. Walau beberapa hal sudah bisa dilakukan secara digital tetapi beberapa bidang membutuhkan interaksi seperti sains and technology. “Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi,” ucap Deen.

Selain itu, Ia juga menekankan pemanfaatan lain seperti mendorong etanol, penggunaan sumber hayati seperti sorgum dan ketela untuk pengganti bensin. Mendorong pengembangan Dimethyl Ether (DME) untuk pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). “Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi,” tekan Deen.

Lebih lanjut, fenomena El Nino yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan muncul pada semester kedua 2026 turut mengkhawatirkan berbagai sektor ditambah dengan naiknya harga bahan bakar. Seperti operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan sektor pertanian yang membutuhkan bahan bakar solar untuk penggunaan pompa air di musim kemarau. “Beberapa sumber energi terbarukan yang bisa digunakan untuk menggantikan solar yaitu penggunaan mikroalga, biodiesel, hingga penggunaan energi surya,” sebutnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan energi membutuhkan perencanaan yang matang. Dengan adanya Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Pemerintah harus mengawal agar bisa terlaksana dengan baik dan mendorong pertumbuhan industri di bidang ini. Pengembangan energi nasional harus diiringi dengan pelaksanaan kebijakan nasional yang baik dan pengembangan industri energi nasional yang kuat baik energi fosil maupun energi terbarukannya. “Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor,” tambahnya. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com