Mohd Haramen

PUASA KE XXIII : Pribadi Pemaaf

Posted on 2026-03-14 18:05:28 dibaca 100 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

Tahun 1962, seorang pria bernama Nelson Mandela ditangkap oleh rezim Apartheid di Afrika Selatan. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan menghabiskan 27 tahun hidupnya di balik jeruji besi di Robben Island. Bertahun-tahun ia diperlakukan keras oleh para sipir penjara, dipaksa menjalani kerja berat, hidup dalam keterbatasan, dan menyaksikan bagaimana kebencian dijadikan sistem yang menindas manusia lain.

Namun sejarah menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Setelah sistem Apartheid runtuh, pada tahun 1994 Nelson Mandela terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan melalui pemilu demokratis pertama yang melibatkan semua ras. Ketika ia dilantik, ada satu tindakan yang mengejutkan banyak orang: Mandela mengundang para sipir penjara yang dahulu menjaganya untuk duduk di kursi tamu kehormatan.

Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin tampak sebagai kelemahan. Tetapi bagi jiwa yang besar, itulah bentuk pembalasan yang paling elegan. Mandela tidak membalas kebencian dengan dendam, melainkan dengan martabat. Ia tidak membalas penindasan dengan amarah, melainkan dengan kepemimpinan.

Sikap seperti ini sejatinya bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah kemanusiaan. Jauh sebelum Mandela, teladan agung tentang kelapangan hati telah ditunjukkan oleh Muhammad. Ketika terjadi Penaklukan Makkah, Rasulullah memiliki kekuatan penuh untuk membalas orang-orang Quraisy yang dahulu menyiksa, menghina, dan memusuhinya. Namun yang keluar dari lisannya bukanlah hukuman, melainkan ampunan.

Beliau berkata dengan penuh kasih, “Pergilah kalian, kalian semua bebas.”

Itulah kemenangan yang tidak hanya menaklukkan kota, tetapi juga menaklukkan hati manusia.

Karena sejatinya, memaafkan adalah perkara yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan. Banyak orang mampu berkata “maaf”, tetapi tidak mampu melupakan. Luka lama masih terasa perih ketika diingat. Ego sering kali lebih kuat daripada keikhlasan.

Suatu hari Rasulullah duduk bersama para sahabat di masjid. Beliau berkata bahwa sebentar lagi akan datang seorang penghuni surga. Tak lama kemudian masuklah seorang Arab Badui. Peristiwa itu terjadi berulang beberapa kali sehingga para sahabat pun heran, apa gerangan amalan istimewa orang tersebut.

Rasa penasaran membawa Abdullah bin Amr bin Ash untuk mencari tahu. Ia menginap di rumah orang Badui itu selama tiga malam. Namun selama itu ia tidak menemukan ibadah luar biasa yang berbeda dari kebanyakan orang.

Akhirnya ia bertanya langsung.

Orang Badui itu menjawab dengan sederhana: setiap malam sebelum tidur, ia selalu memaafkan semua orang yang pernah berbuat salah kepadanya. Ia juga mendoakan mereka dan berusaha membersihkan hatinya dari iri serta dengki.

Jawaban yang sederhana, tetapi mengandung kedalaman yang luar biasa. Sebuah amalan yang sunyi, tidak terlihat manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.

Di sinilah Ramadhan menemukan maknanya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan besar untuk mengendalikan diri—menahan amarah, meredam ego, menjaga lisan, dan belajar memaafkan.

Puasa mendidik manusia agar tidak tergesa membalas keburukan. Ia melatih hati agar lebih lapang, lebih sabar, dan lebih jernih dalam memandang orang lain.

Imam Ibrahim An-Nakha’i pernah menjelaskan sifat orang beriman: mereka tidak suka dihina, tetapi ketika memiliki pilihan, mereka memilih untuk memaafkan.

Itulah kekuatan sejati seorang manusia. Bukan pada kemampuan membalas, tetapi pada keberanian untuk memaafkan.

Karena dendam hanya memperpanjang luka, sementara maaf membebaskan jiwa.

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk membersihkan hati dari segala yang mengeruhkannya. Mungkin ada kata yang menyakitkan, mungkin ada sikap yang melukai, atau kenangan lama yang masih menyisakan pahit.

Namun jika Mandela mampu memaafkan puluhan tahun penindasan, jika Rasulullah mampu memaafkan orang-orang yang memusuhinya, maka seharusnya kita pun mampu memaafkan luka-luka kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Dengan kesabaran, kepedulian, dan kelapangan hati, kita dapat membangun kehidupan yang lebih damai dan penuh kasih.

Sebab pada akhirnya, orang yang paling kuat bukanlah yang mampu mengalahkan musuhnya, melainkan yang mampu mengalahkan dendam di dalam hatinya.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com