Mohd Haramen

PUASA KE XIV : Sedekah SOP

Posted on 2026-03-04 18:18:58 dibaca 275 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

DIANTARA para sahabat Rasulullah ﷺ, ada satu nama yang selalu bersinar karena kesederhanaannya yakni,  Abu Dzar al-Ghifari. Nama lengkapnya Abu Dzar Jundab bin Junadah bin Sufyan al-Ghifari. Ia berasal dari suku Ghifar yang tinggal di lembah Waddan, jalur sunyi yang menghubungkan Makkah dengan wilayah lainnya. Mereka hidup jauh dari gemerlap peradaban kota dan Abu Dzar tumbuh dalam kemiskinan yang sangat sederhana.

Bahkan, ia dikenal sebagai salah satu sahabat termiskin. Namun kemiskinan tidak pernah menghalangi kekayaan jiwanya. Suatu hari, Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan Abu Dzar untuk bersedekah. Dengan jujur ia bertanya,
“Wahai Rasulullah, dengan apa saya bisa bersedekah?”

Rasulullah ﷺ menjawab dengan lembut,
“Kalau engkau membuat sop, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetanggamu.”

Abu Dzar kembali berkata polos,
“Tetapi sop saya istimewa, ya Rasulullah.”

“Apa maksudmu?” tanya beliau.

“Sop saya hanya terdiri atas air putih yang dibubuhi garam dan sedikit irisan bawang.”

Jawaban Rasulullah ﷺ begitu menenangkan,
“Tidak mengapa.”

Di situlah letak pelajaran besarnya, sedekah bukan tentang kemewahan isi mangkuk, melainkan tentang ketulusan hati. Abu Dzar pun melaksanakan perintah itu. Ia memperbanyak air sopnya, lalu membagikannya kepada tetangga. Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah air asin dengan bawang. Namun bagi yang menerimanya, itu adalah perhatian, kepedulian, dan kasih sayang. Tetangganya terharu—dan membalasnya dengan hidangan yang lebih baik dan istimewa.

Begitulah cara Allah membalas sedekah. Bukan sekadar mengganti, tetapi melipatgandakan dengan cara yang tak terduga. Hal ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 261:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Dari ayat tersebut, Allah menjanjikan satu benih kebaikan dilipatgandakan menjadi tujuh ratus. Satu sedekah menjadi keberkahan yang tak ternilai.

Secara logika manusia, jika kita memiliki 10 lalu memberi 1, maka sisa kita tinggal 9. Namun dalam logika langit, 1 yang kita keluarkan bisa bernilai 700 di sisi Allah. Maka bukan 10 dikurangi 1 sama dengan 9—tetapi 10 dikurangi 1 bisa menjadi 739 dalam hitungan keberkahan.

Misalnya seseorang berpenghasilan Rp1.000.000 per bulan, lalu ia keluarkan 2,5% untuk sedekah. Secara hitungan dunia, ia menyisakan Rp 975.000. Namun di sisi Allah, nilai sedekahnya bisa dilipatgandakan berkali-kali. Bisa menjadi 18.475.000 disisi Allah. Dan tentu balasan itu tidak selalu berupa uang. Bisa berupa kesehatan yang lebih baik. Bisa berupa anak-anak yang saleh dan salehah. Bisa berupa hati yang lapang. Bisa berupa dijauhkan dari musibah. Bisa berupa rezeki yang datang dari arah yang tak pernah disangka.

Dalam perspektif sosial dan ekonomi, sedekah bukan hanya ibadah personal, tetapi juga instrumen pemerataan. Ia meningkatkan daya beli masyarakat kecil, menjadi modal usaha mikro, dan menggerakkan roda ekonomi. Sedekah menciptakan sirkulasi kebaikan. Yang memberi tidak miskin, yang menerima tidak merasa hina. Kisah Abu Dzar mengajarkan kita satu hal penting: jangan menunggu kaya untuk berbagi.

Jika hari ini kita hanya punya “air garam dan bawang”, maka berbagilah dengan itu. Karena yang Allah lihat bukan seberapa besar isi mangkuk kita, tetapi seberapa besar cinta dan keikhlasan di dalamnya. Dan mungkin, justru dari mangkuk sederhana itulah Allah membuka pintu-pintu rezeki yang tak pernah kita bayangkan. Mari belajar dari Abu Dzar yakni, Miskin harta bukan alasan untuk berhenti memberi. Karena sejatinya, tangan yang memberi tidak pernah benar-benar kehilangan.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari, bidang penghimpunan Zakat, Infak dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com