YOGYAKARTA, bungopos.com — Batik tidak lahir dari ruang yang sunyi. Di balik garis, titik, warna, dan motif yang tampak begitu akrab, tersimpan perjalanan panjang tentang manusia yang berpindah, pengetahuan yang bertukar, komoditas yang menyeberangi laut, hingga kebudayaan yang saling memengaruhi.
Karena itu, ketika batik dibicarakan sebagai warisan budaya, yang sesungguhnya sedang dibicarakan bukan hanya selembar kain. Di dalamnya terdapat jejak sejarah masyarakat, perdagangan, lingkungan, teknologi, keanekaragaman hayati, sekaligus perjumpaan berbagai kebudayaan yang berlangsung lintas generasi dan lintas negara.
Keragaman batik yang tumbuh di berbagai penjuru Indonesia menjadi salah satu bukti bahwa tradisi ini tidak pernah benar-benar berhenti. Motif dan teknik terus berubah mengikuti lingkungan, kreativitas masyarakat, serta pengetahuan yang datang dari berbagai arah.
“Perkembangan tersebut berlangsung melalui proses adaptasi dan pertukaran pengetahuan antarmasyarakat, termasuk melalui hubungan perdagangan,” kata Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adhisakti, M.Arch., Dosen Purna UGM sekaligus Chair UNESCO Chair of Heritage Cities Conservation and Management, dalam Seminar Nasional Batik bertajuk “Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi” di Auditorium Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Sabtu (3/10).
Laretna membawa peserta seminar menelusuri perjalanan batik melalui sesuatu yang selama ini mungkin luput dari perhatian: pengetahuan dan perdagangan.
Jauh sebelum batik menjadi simbol identitas Indonesia di panggung dunia, bahan-bahan pembentuknya telah mengikuti jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai masyarakat. Rempah-rempah dan bahan pewarna alami, termasuk indigo atau nila, menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang turut membentuk perkembangan batik.
Di Jawa, aktivitas tersebut bahkan berkelindan dengan tumbuhnya berbagai industri komoditas, mulai dari gula, kopi, tembakau hingga indigo.
Namun, sejarah juga mengenal titik balik. Ketika pewarna sintetis mulai dikembangkan di Jerman pada 1856, dunia pewarnaan tekstil perlahan berubah. Bahan sintetis menawarkan kemudahan produksi dan secara bertahap menggeser posisi pewarna alami yang sebelumnya menjadi bagian penting dari tradisi tekstil.
Bagi Laretna, perubahan tersebut menyisakan pekerjaan rumah yang belum selesai: bagaimana menghidupkan kembali pengetahuan tentang pewarna alam tanpa sekadar menjadikannya nostalgia masa lalu.
“Setelah pewarna sintetik 1856 di Jerman, mulailah musnah pewarna alam itu. Nah, ini yang sebenarnya, mohon silakan dilakukan bagaimana untuk selanjutnya bisa kita kembalikan,” ujarnya.
Jejak perjalanan batik juga tidak hanya ditemukan dalam perdagangan bahan. Ia tumbuh melalui perjumpaan budaya.
Hubungan dengan India, misalnya, meninggalkan jejak pada perkembangan tradisi batik di Jawa. Kain Patola dari India mengalami proses adaptasi ketika masuk ke dalam lingkungan budaya Jawa. Dari proses perjumpaan dan kreativitas itu kemudian berkembang tradisi batik Nitik yang hingga kini dikenal sebagai salah satu kekayaan batik Yogyakarta.
Hubungan lintas budaya tersebut bahkan terekam dalam kisah perjalanan Raja Thailand Chulalongkorn ke Jawa pada 1871. Dalam kunjungan itu, sang raja membeli 307 lembar batik. Kain-kain tersebut kemudian tersimpan selama hampir satu abad sebelum kembali muncul ke permukaan melalui sebuah pameran di Thailand.
Kisah itu seperti membuka sebuah jendela: batik ternyata telah melakukan perjalanan jauh sebelum istilah diplomasi budaya menjadi bagian dari percakapan modern.
India, Thailand, Jepang, Tiongkok, dan berbagai wilayah lainnya menjadi bagian dari sejarah panjang perjumpaan yang ikut memperkaya perkembangan batik. Dalam proses tersebut, batik tidak hanya berpindah tempat. Ia membawa pengetahuan, lalu menerima pengaruh baru dan melahirkan bentuk-bentuk yang berbeda.
Perjalanan itu masih berlangsung hingga hari ini.
Batik diperkenalkan melalui pameran, pertunjukan, lokakarya, hingga kegiatan pendidikan di berbagai negara, termasuk Portugal, Jepang, Swedia, Latvia, Belanda, Sri Lanka, Tiongkok, dan Taiwan.
Yang dibawa ke luar negeri bukan sekadar kain yang siap dipajang. Bersama batik, ikut diperkenalkan pengetahuan tentang bagaimana kain itu dibuat, siapa yang membuatnya, bahan apa yang digunakan, serta nilai budaya yang membuatnya memiliki makna.
Di sinilah batik berubah menjadi bahasa diplomasi.
Generasi muda kemudian memiliki posisi penting dalam perjalanan tersebut. Kemampuan berbahasa asing, pemahaman budaya, serta penguasaan pengetahuan tentang batik dapat menjadi modal untuk membawa cerita Indonesia ke masyarakat internasional.
Perguruan tinggi pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Kampus dapat menjadi tempat bertemunya pengetahuan akademik dengan praktik kebudayaan, sekaligus ruang bagi generasi baru untuk memahami bahwa melestarikan batik tidak berarti membekukannya dalam bentuk masa lalu.
Di Fakultas Ilmu Budaya UGM, misalnya, batik dipelajari bukan hanya sebagai objek kajian, tetapi juga dipraktikkan secara langsung. Mahasiswa belajar mengenal proses membatik, sebagaimana mereka mempelajari tari dan gamelan.
Dekan FIB UGM, Dr. Nur Saktiningrum, mengatakan praktik kebudayaan tersebut juga melibatkan mahasiswa asing yang belajar di UGM.
“Kelas-kelas praktik kebudayaan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Indonesia. Mahasiswa asing yang belajar di FIB UGM ikut menari, menabuh gamelan, dan membatik. Rata-rata, setiap tahunnya, kita didatangi sekitar 300–350 mahasiswa asing. Di tangan mereka, praktik menyeberang ke batas negara,” jelasnya.
Di tangan generasi muda dan mahasiswa internasional itu, batik tidak lagi berhenti sebagai benda. Ia berubah menjadi pengalaman yang dapat dibawa pulang, diceritakan kembali, dan diperkenalkan kepada masyarakat di negara lain.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana memastikan batik tetap hidup ketika dunia berubah semakin cepat?
Jawabannya tidak cukup dengan menjaga motif lama atau mempertahankan teknik tradisional. Keberlanjutan batik juga bergantung pada keberlangsungan para perajin, ketersediaan bahan, pengetahuan yang diwariskan, serta lingkungan yang menopang seluruh proses produksinya.
Laretna mengaitkan masa depan batik dengan gagasan ekonomi regeneratif—sebuah pendekatan yang tidak berhenti pada upaya mengurangi kerusakan lingkungan, tetapi berusaha memulihkan lingkungan sekaligus menciptakan nilai baru bagi masyarakat.
“Tidak lagi seperti ekonomi ekstraktif yang eksploratif, yang sumber daya diambil semuanya dan akhirnya hilang. Tidak juga seperti ekonomi sekuler yang hanya mengurangi dampak atau kemudian mengembalikan pada kondisi semula. Ekonomi regeneratif itu justru harus memulihkan lingkungan, melahirkan karya baru, dan harus bisa diproduksi lagi lebih baik daripada semula,” jelasnya.
Gagasan itu membawa batik pada persoalan yang jauh lebih luas. Masa depan batik bukan hanya soal bagaimana kain diproduksi dan dijual, melainkan bagaimana ekosistem kebudayaan di belakangnya tetap bertahan.
Dekan FIB UGM melihat batik sebagai arsip hidup yang menyimpan pengetahuan tentang manusia, lingkungan, keanekaragaman hayati, dan perjalanan sejarah bangsa. Karena itu, Hari Batik Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan simbolik, melainkan menjadi momentum untuk memastikan pengetahuan tersebut tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Wening Udasmoro. Menurutnya, persoalan muncul ketika batik hanya dilihat sebagai produk.
“Kalau kita melihat batik sebagai bagian dari kebudayaan, kita sering mengalami pendapat atau pemikiran bahwa batik itu hanya sebuah produk. Padahal, setiap pembicaraan mengenai kebudayaan paling tidak memiliki tiga aspek. Yang pertama memang itu adalah hasil kebudayaan, sebuah produk. Namun, jangan lupa bahwa kebudayaan juga memiliki aspek lain, yaitu gagasan dan perilaku,” jelas Wening.
Gagasan dan perilaku itulah yang membuat batik terus berkembang dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Magelang memiliki karakter sendiri. Jawa Timur memiliki kekhasan tersendiri. Bahkan Papua memiliki batik dengan warna dan identitas visual yang berbeda. Tidak semuanya lahir dari satu ruang geografis, tetapi semuanya menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat beradaptasi dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.
“Bahkan Papua juga punya batik Papua yang warna-warni. Meskipun dibuat di Pekalongan, paling tidak ada batik Papua sebagai bagian dari identitas yang terbangun,” tuturnya.
Pada akhirnya, mungkin justru di situlah kekuatan batik Indonesia.
Batik tidak harus selalu sama untuk tetap menjadi batik. Ia tidak kehilangan identitas hanya karena berubah. Sebaliknya, kemampuan untuk menyerap pengetahuan, beradaptasi dengan zaman, dan melahirkan kreativitas baru justru menjadi alasan mengapa batik mampu bertahan selama berabad-abad.
Dari jalur perdagangan rempah dan pewarna alami, dari perjumpaan dengan India dan Thailand, dari pengaruh Jepang dan Tiongkok, hingga ruang-ruang diplomasi budaya di berbagai belahan dunia, batik telah membuktikan bahwa warisan budaya tidak pernah benar-benar statis.
Ia bergerak bersama manusia.
Dan selama para perajin masih berkarya, pengetahuan masih diwariskan, lingkungan masih dijaga, serta generasi baru masih menemukan alasan untuk mencintai dan mengembangkannya, batik tidak sekadar akan bertahan sebagai warisan masa lalu.
Ia akan terus menjadi bahasa budaya Indonesia untuk berbicara kepada masa depan. (***)