ILUSTRASI : Seorang ayah yang bermain dengan anaknya

Jangan Biarkan Anak Tumbuh dengan Ayah yang Hanya Ada di Foto

YOGYAKARTA, bungopos.com  – Banyak orang menganggap tugas ayah selesai ketika kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga membutuhkan sosok yang mau mendengar, menemani, dan menjadi tempat pulang.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Seminar Hari Keluarga Nasional bertajuk "A Shoulder to Cry On: Bertahan Bersama, Bertumbuh Bersama, Menghadirkan Ayah dalam Keluarga" yang digelar Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat, 3 Juli.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, mengatakan menjadi ayah bukan sekadar status biologis. Menurut dia, menjadi ayah adalah keputusan untuk hadir secara utuh dalam kehidupan anak.

"Anak belajar keberanian, ketangguhan, hingga cara menghadapi dunia dari figur ayah. Keteladanan adalah sekolah pertama yang mereka lihat di rumah," ujarnya.

Namun, tantangan keluarga saat ini justru datang dari dalam rumah sendiri.

Satu Rumah, Tapi Seperti Orang Asing

Avin menyoroti fenomena yang kini semakin sering terjadi, yakni alone together. Semua anggota keluarga berada dalam satu ruangan, tetapi masing-masing sibuk menatap layar telepon genggam.

Rumah tetap ramai, tetapi percakapan menghilang.

"Kita tidak kekurangan teknologi maupun informasi. Yang kita kekurangan adalah perhatian dan kedekatan," katanya.

Ia juga mengingatkan bahaya phubbing, ketika orang tua lebih fokus pada telepon genggam daripada anak yang sedang membutuhkan perhatian.

Menurut Avin, kehadiran fisik belum tentu berarti kehadiran emosional.

"Ayah perlu menjadi tempat anak bercerita, memahami perasaannya, menghargai pendapatnya, dan menjadi ruang yang aman. Di era digital, ayah harus menjadi kompas yang mengarahkan anak, bukan sekadar mengawasinya," katanya.

Ketika Ayah Tidak Hadir

Ketidakhadiran ayah, menurut Avin, meninggalkan dampak yang berbeda pada setiap anak.

Anak laki-laki cenderung mencari sosok panutan di luar rumah. Bila salah memilih figur, mereka lebih rentan mengikuti pengaruh negatif.

Sementara itu, anak perempuan berisiko kehilangan rasa aman dan mengalami masalah kepercayaan diri yang dapat terbawa hingga dewasa.

Karena itu, Avin mengingatkan bahwa kualitas kebersamaan jauh lebih penting dibanding lamanya waktu.

Makan bersama, berdiskusi, menghadiri kegiatan sekolah anak, mengurangi penggunaan gawai saat bersama keluarga, hingga membiasakan mendoakan anak merupakan bentuk kehadiran yang sederhana, tetapi berdampak besar.

Ia juga mengingatkan pentingnya pola asuh yang demokratis.

Mengacu pada the law of readiness, anak yang diberi kesempatan bertindak saat sudah siap akan tumbuh lebih percaya diri dan bertanggung jawab. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu otoriter justru dapat menghambat perkembangan mereka.

Negara Juga Harus Hadir

Dosen Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, mengatakan persoalan pengasuhan tidak bisa dibebankan hanya kepada keluarga.

Menurut dia, negara juga memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung keterlibatan ayah dalam membesarkan anak.

"Tidak hanya ayah yang harus hadir, negara juga wajib hadir. Keluarga yang sehat akan melahirkan anak-anak berkualitas, dan mereka adalah investasi bangsa," ujarnya.

Diana menjelaskan rendahnya keterlibatan ayah sering kali dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan ekonomi, kesehatan mental, pengalaman masa kecil yang penuh trauma, hingga ketidaksiapan menjalankan peran sebagai orang tua.

Ia memberi contoh sederhana.

"Ayah yang semasa kecil tidak pernah dipeluk sering kali tidak tahu bagaimana memeluk anaknya ketika ia sendiri menjadi ayah."

Karena itu, menurut Diana, perubahan budaya menjadi sama pentingnya dengan perubahan kebijakan.

Pandangan bahwa pekerjaan rumah hanya menjadi tanggung jawab perempuan sudah saatnya ditinggalkan.

"Ayah yang mencuci piring, menyapu rumah, atau mengganti popok anak bukan sedang membantu istri. Ia sedang menjalankan tanggung jawabnya sebagai orang tua," katanya.

Belajar dari Australia

Diana menilai Indonesia dapat mengadopsi sejumlah praktik yang telah diterapkan di Australia.

Di antaranya cuti orang tua berbayar (paid parental leave), pelatihan menjadi ayah, pelibatan ayah dalam layanan kesehatan ibu dan anak, hingga layanan keluarga yang secara khusus dirancang ramah terhadap keterlibatan ayah.

Selain itu, ia mengusulkan tiga pilar kebijakan yang perlu diperkuat pemerintah, yakni promosi melalui peningkatan pengetahuan keluarga, kurasi untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga, dan prevensi melalui penguatan layanan sosial serta sistem perlindungan keluarga.

Menurut Diana, kebijakan yang berkelanjutan akan memudahkan ayah menjalankan dua peran sekaligus, bukan hanya sebagai pencari nafkah (breadwinner), tetapi juga sebagai pengasuh (caregiver) yang aktif.

Anak Tidak Akan Mengingat Berapa Gaji Ayah

Seminar ini mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang ayah bukan hanya seberapa besar penghasilannya, melainkan seberapa besar ruang yang ia berikan untuk hadir dalam kehidupan anak.

Sebab, ketika anak dewasa nanti, mereka mungkin tidak akan mengingat berapa gaji ayah setiap bulan. Namun mereka akan selalu mengingat apakah ayah pernah mendengarkan cerita mereka, memeluk ketika sedih, datang saat mereka membutuhkan, atau sekadar meletakkan telepon genggam untuk memberi perhatian penuh.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan serba digital, kehadiran ayah bukan lagi pelengkap. Ia adalah fondasi yang menentukan lahirnya generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter. Sebab, bagi seorang anak, ayah yang benar-benar hadir adalah hadiah yang nilainya jauh melampaui materi. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/