JAKARTA, bungopos.com – Aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa dari berbagai kampus kembali menyita perhatian publik. Di tengah ribuan massa yang turun ke jalan, mahasiswa Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia (UI), Dialo, menegaskan bahwa gerakan yang mereka lakukan bukan didasari oleh kebencian terhadap pemerintah, melainkan bentuk kekecewaan dan kemarahan atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Menurut Dialo, aksi tersebut lahir dari keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan tata kelola pemerintahan yang dianggap semakin jauh dari harapan publik.
“Ini bukan gerakan benci pemerintah. Tapi kemarahan masyarakat atas sistem yang diciptakan hari ini dan kebijakan-kebijakan yang mereka lakukan. Yang jelas kami marah dan kami turun ke jalan,” tegas Dialo.
Ia menilai demonstrasi yang berlangsung saat ini harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya mahasiswa atau kelompok tertentu.
“Saya sangat senang jika gerakan ini bisa menjadi gerakan kolektif. Jangan sampai ini hanya menjadi gerakan eksklusif mahasiswa, apalagi hanya milik UI saja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dialo menyebut berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat menjadi alasan utama gelombang protes terus bermunculan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), meningkatnya harga kebutuhan pokok, hingga sejumlah program pemerintah yang menuai kontroversi menjadi sorotan para demonstran.
“Kami ingin ini menjadi kemarahan masyarakat. Kami tahu bahwa BBM naik, tapi MBG justru menyengsarakan dan banyak keracunan, pemborosan APBN dan lain-lain,” tambahnya.
Lima Tuntutan Utama BEM UIDalam aksi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menyampaikan lima tuntutan yang menjadi fokus perjuangan mereka, yaitu: