ILUSTRASI : Warga yang berusia senja

Jutaan Lansia Indonesia Berjuang Melawan Kemiskinan, Ini Tipsnya Agar Tak Melarat Di Usia Senja

YOGYAKARTA, bungopos.com - Di balik senyum para orang tua yang kita temui setiap hari, tersimpan sebuah kenyataan yang jarang dibicarakan. Setelah puluhan tahun bekerja, membesarkan anak-anak, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa, jutaan lansia Indonesia justru menghadapi masa tua dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan fakta yang menggugah hati: 41,75 persen lansia Indonesia hidup dalam rumah tangga dengan tingkat pengeluaran 40 persen terbawah. Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat jutaan kisah tentang para ayah dan ibu yang harus tetap bekerja di usia senja, mengurangi kebutuhan hidup, atau bergantung pada bantuan keluarga demi bertahan menjalani hari-hari mereka.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam sistem perlindungan pensiun. Saat ini, hanya sekitar lima persen lansia yang mampu menopang kehidupannya secara mandiri melalui dana pensiun. Selebihnya harus bergantung pada anak, kerabat, pekerjaan sambilan, atau bantuan sosial yang jumlahnya terbatas.

Bagi banyak keluarga Indonesia, fenomena ini melahirkan apa yang dikenal sebagai "sandwich generation"—generasi produktif yang harus menanggung kebutuhan hidup anak-anak sekaligus membiayai orang tua yang memasuki masa pensiun. Akibatnya, tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh lansia, tetapi juga menimpa generasi muda yang sedang berjuang membangun masa depan mereka sendiri.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, menilai persoalan ini harus segera mendapat perhatian serius. Menurutnya, salah satu akar masalah terletak pada kecilnya kontribusi dana pensiun yang selama ini diterapkan di Indonesia.

Saat ini, pekerja hanya menyisihkan sekitar satu persen dari gaji untuk program jaminan hari tua, sementara perusahaan memberikan kontribusi sekitar dua persen dari gaji kotor. Angka tersebut dinilai jauh dari cukup untuk menjamin kehidupan yang layak ketika seseorang memasuki masa pensiun.

Eddy mengusulkan peningkatan kontribusi secara bertahap sehingga total dana yang dialokasikan untuk pensiun dapat mencapai sekitar 14 hingga 15 persen dari gaji kotor. Dengan skema yang lebih kuat, pekerja memiliki peluang lebih besar menikmati masa tua yang aman dan bermartabat.

Namun tantangan terbesar justru berada pada sektor informal yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pedagang kecil, petani, nelayan, pekerja lepas, hingga pelaku UMKM umumnya tidak memiliki sistem pemotongan otomatis untuk dana pensiun. Mereka harus mengandalkan kesadaran dan disiplin pribadi untuk menabung atau berinvestasi.

Karena itu, Eddy mendorong para pekerja informal dan wirausahawan untuk mulai menyisihkan sekitar 10 hingga 20 persen pendapatan mereka sebagai tabungan atau investasi hari tua.

"Menabung untuk masa pensiun bukan tentang menjadi kaya di masa depan, tetapi tentang menjaga martabat hidup ketika usia tidak lagi memungkinkan kita bekerja seperti sekarang," ungkapnya.

Selain pembenahan sistem dana pensiun, berbagai langkah lain juga dinilai penting. Pemerintah didorong untuk memperluas layanan kesehatan dan perawatan lansia, menyediakan akses pembiayaan usaha dengan bunga rendah bagi pensiunan yang masih ingin produktif, serta memberikan fleksibilitas terkait usia pensiun agar masyarakat dapat menentukan sendiri kapan mereka siap berhenti bekerja.

Di tengah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia, isu kesejahteraan lansia sesungguhnya bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan persoalan kemanusiaan. Bagaimana sebuah bangsa memperlakukan generasi tuanya akan menjadi cermin kualitas peradaban bangsa tersebut.

Para lansia hari ini adalah mereka yang dahulu membangun jalan yang kita lewati, mengajar di sekolah tempat kita belajar, bekerja di kantor-kantor yang menggerakkan ekonomi, serta mengorbankan banyak hal demi masa depan anak-anak mereka. Mereka tidak seharusnya menghabiskan usia senja dengan kecemasan tentang biaya hidup esok hari.

Membangun sistem jaminan hari tua yang kuat bukan hanya investasi bagi para lansia saat ini, tetapi juga hadiah bagi generasi mendatang. Sebab suatu hari nanti, setiap pekerja Indonesia akan sampai pada titik yang sama: meninggalkan usia produktif dan berharap dapat menikmati masa tua dengan tenang, sehat, dan bermartabat.

Ketika negara mampu memastikan para lansianya hidup sejahtera, sesungguhnya negara sedang membangun masa depan yang lebih manusiawi bagi semua generasi. Sebab kesejahteraan orang tua bukan hanya tentang angka dalam laporan statistik, melainkan tentang menghargai perjalanan panjang kehidupan yang telah mereka persembahkan untuk bangsa ini. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/