Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghafur -

Catat, Ada Program KKN Mahasiswa Berbasis Zakat dan Wakaf untuk Dorong Pemberdayaan Ekonomi Umat

JAKARTA, bungopos.com - Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Ditzawa), Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama memperkuat kolaborasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik berbasis zakat dan wakaf.  Ditzawa menggandeng Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam program tersebut.

Inovasi ini bertujuan mendorong pemberdayaan ekonomi umat sekaligus berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan nasional. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghafur, mengungkapkan, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar program filantropi Islam memberikan dampak nyata. Menurutnya, kolaborasi tersebut sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden yang diterjemahkan dalam Asta Protas Menteri Agama, terutama pada penguatan ekonomi umat yang adaptif dan berkelanjutan serta pengembangan ekoteologi.

“KKN Tematik harus menjadi ruang aktualisasi ilmu sekaligus pengabdian nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar teori zakat dan wakaf di kampus, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk memetakan potensi, mendampingi, dan memastikan program berjalan efektif,” ujar Waryono dalam Rapat Koordinasi dan Kolaborasi KKN Tematik yang digelar secara virtual di Jakarta, Sabtu (16/2/2026).

Ia menambahkan, keterlibatan aktif dosen, mahasiswa, dan peneliti, khususnya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Syariah, akan memperkuat integrasi antara pendekatan akademik dan praktik pemberdayaan. “Teori yang diuji di lapangan akan menghasilkan model pengelolaan zakat dan wakaf yang lebih kontekstual dan solutif,” katanya.

Waryono menjelaskan, Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf telah menyiapkan sejumlah program prioritas yang terintegrasi dengan KKN Tematik, antara lain Inkubasi Wakaf Produktif berbasis kampus dan program Kota Wakaf. Kehadiran mahasiswa di lapangan diharapkan dapat mempercepat pemetaan serta sertifikasi potensi wakaf di berbagai daerah.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif tersebut akan memperkuat tata kelola wakaf sekaligus membuka peluang ekonomi baru di tingkat lokal. Dengan pendampingan terstruktur, aset wakaf dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan.

Ia juga mencontohkan praktik baik yang dilakukan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kampus tersebut dinilai berhasil melaksanakan KKN Tematik Wakaf yang mendorong percepatan sertifikasi tanah wakaf dan pemetaan potensi wakaf masyarakat di wilayah dampingan.

“Model seperti yang dilakukan UIN Pekalongan perlu direplikasi. Kita ingin puluhan PTKIN lain mengambil peran serupa agar gerakan ini meluas dan berdampak sistemik,” ujarnya.

Selain penguatan wakaf produktif, Kemenag juga memperkenalkan inovasi Hutan Wakaf sebagai bagian dari program ekoteologi. Inisiatif ini mengintegrasikan pengelolaan wakaf dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar, sehingga aspek spiritual dan keberlanjutan ekologis berjalan seiring.

Waryono menegaskan bahwa instrumen filantropi Islam yang dikembangkan tidak terbatas pada zakat dan wakaf. Ekosistemnya juga mencakup infak, sedekah, kurban, fidiah, dam, serta instrumen sosial keagamaan lainnya yang dapat dioptimalkan melalui kolaborasi bersama BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan para nazhir.

Terkait pelaksanaan teknis, ia memastikan perguruan tinggi tidak perlu lagi mencari lokasi KKN secara mandiri. Lokasi dampingan telah disiapkan oleh BAZNAS dan LAZ sehingga kampus dapat fokus menempatkan sumber daya manusia untuk pendampingan yang tepat sasaran.

Pendekatan ini dirancang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan angka kemiskinan nasional yang saat ini berada pada kisaran 22–23 juta jiwa. Pemberdayaan difokuskan pada desa dan kawasan pinggiran agar pemerataan kesejahteraan semakin terwujud.

Rapat koordinasi yang diikuti 49 pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) PTKIN tersebut diharapkan menghasilkan komitmen bersama. Melalui sinergi KKN Tematik seperti Kampung Zakat dan program pemberdayaan ekonomi umat, Kemenag optimistis ekosistem filantropi Islam yang kuat dapat terbangun sebagai fondasi menuju Indonesia Emas. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: https://kemenag.go.id/