IPK 3,99 : Anisa Putri Aviana, wisudawati Program Magister Sains Veteriner Universitas Gadjah Mada (UGM)

Daun Kemangi Ternyata Bisa Mencegah Penyakit Parkinson, Begini Hasil Penelitian Mahasiswa Lulusan Tercepat UGM

Posted on 2026-11-08 23:17:26 dibaca 27 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com – Siapa sangka tanaman kemangi yang selama ini dikenal sebagai lalapan dan pelengkap hidangan sehari-hari menyimpan potensi untuk pengembangan ilmu kesehatan saraf? Berangkat dari pertanyaan ilmiah tersebut, Anisa Putri Aviana, wisudawati Program Magister Sains Veteriner Universitas Gadjah Mada (UGM), melakukan penelitian mengenai potensi senyawa bioaktif kemangi sebagai agen neuroprotektif atau pelindung sel saraf, termasuk dalam konteks penyakit Parkinson.

Penelitian itu menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan akademiknya yang mengantarkan Anisa meraih prestasi luar biasa. Dalam Wisuda Pascasarjana UGM pada 28–29 Oktober 2026, perempuan yang akrab disapa Avi tersebut dinobatkan sebagai lulusan dengan masa studi tercepat untuk jenjang magister, yakni hanya 1 tahun 26 hari.

Pencapaian tersebut semakin istimewa karena Avi berhasil menyelesaikan studinya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Sementara itu, rata-rata masa studi lulusan program magister pada periode wisuda yang sama mencapai 2 tahun 2 bulan.

Namun, menjadi lulusan tercepat bukanlah tujuan utama Avi. Baginya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kedisiplinan, perencanaan yang matang, konsistensi belajar, serta kesungguhan menjalani setiap tahapan pendidikan.

Ketertarikannya terhadap penelitian berawal dari minat pada bidang neuroscience atau ilmu yang mempelajari sistem saraf. Sejak semester awal di Program Studi Magister Sains Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Avi sudah mencari dosen pembimbing yang memiliki keahlian sesuai dengan bidang yang ingin didalaminya. Langkah tersebut membuat proses penelitian dapat dimulai lebih awal.

Dalam penelitiannya, Avi mengkaji potensi kemangi melalui dua pendekatan, yakni in silico atau analisis berbasis komputasi dan in vitro menggunakan sel PC12 yang diinduksi rotenon. Model penelitian tersebut digunakan untuk mempelajari kemungkinan efek perlindungan senyawa bioaktif kemangi terhadap kerusakan sel saraf yang berkaitan dengan mekanisme penyakit Parkinson.

"Kemangi memiliki kandungan bioaktif yang dapat melindungi sel saraf kita dari Parkinson, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut," ungkap Avi, Jumat (6/11/2026).

Temuan ini membuka ruang bagi penelitian lebih mendalam mengenai pemanfaatan tanaman herbal dalam pengembangan ilmu kesehatan saraf. Meski demikian, hasil penelitian laboratorium tersebut belum dapat dimaknai sebagai bukti bahwa kemangi mampu mencegah atau mengobati Parkinson pada manusia. Diperlukan tahapan penelitian lanjutan untuk menguji keamanan, efektivitas, serta mekanisme kerja senyawa bioaktifnya.

Di balik pencapaian akademiknya, Avi mengakui bahwa keberhasilan menyelesaikan studi dalam waktu singkat tidak terlepas dari dukungan dua dosen pembimbingnya, Prof. drh. Dwi Liliek Kusindarta, M.P., Ph.D., dan Dr. med. vet. drh. Hevi Wihadmadyatami, M.Sc. Keduanya memberikan pendampingan yang suportif dan komunikatif selama proses penelitian hingga penyelesaian tesis.

Menurut Avi, memilih topik penelitian yang sesuai dengan minat pribadi membuat proses akademik terasa lebih menyenangkan. Rasa ingin tahu yang besar mendorongnya untuk terus membaca literatur ilmiah, memperdalam pengetahuan, dan menjaga konsistensi dalam mengerjakan penelitian.

Tantangan terbesarnya justru bukan berasal dari laboratorium ataupun lingkungan perkuliahan, melainkan dari dirinya sendiri. Rasa malas dan kebiasaan menunda pekerjaan menjadi hal yang harus terus dikendalikan.

Untuk mengatasinya, Avi menerapkan strategi yang disebutnya sebagai metode segitiga terbalik, yaitu memecah tujuan besar menjadi sejumlah pekerjaan kecil yang lebih mudah dikelola. Dengan cara tersebut, setiap target dapat dikerjakan secara bertahap tanpa harus menunggu pekerjaan menumpuk menjelang tenggat waktu.

Kedisiplinan yang telah dibangun sejak pendidikan sarjana menjadi modal penting dalam menjalani proses tersebut. Ia juga terbiasa menyusun jadwal, menentukan prioritas, dan berusaha menyelesaikan setiap pekerjaan sesuai target.

Dukungan keluarga turut menjadi kekuatan besar dalam perjalanan pendidikannya. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Avi mengaku memperoleh kepercayaan dan dorongan penuh dari keluarga. Keberhasilannya juga memiliki makna tersendiri karena mengantarkannya menjadi dokter hewan pertama di keluarganya.

Lingkungan akademik yang positif, teman seperjuangan, serta bimbingan para dosen membuat perjalanan studinya semakin bermakna. Baginya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang kemampuan individu, tetapi juga tentang dukungan dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Kepada mahasiswa yang sedang menyelesaikan penelitian maupun tesis, Avi berpesan agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan perjalanan akademik dengan orang lain. Setiap mahasiswa memiliki kemampuan, tantangan, dan waktu pencapaian yang berbeda.

Ia mengingatkan pentingnya memulai pekerjaan lebih awal, menyusun strategi yang sesuai, dan menjaga konsistensi dalam menjalankan setiap tahapan.

"Start earlier, plan strategically, and be consistent. Kita harus mau mulai dari awal, dari langkah kecil, kemudian memikirkan strategi yang cocok dan konsisten melaksanakan aksinya," pesannya.

Ke depan, Avi bercita-cita menjadi dosen dan melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Ketertarikan terhadap dunia pendidikan telah tumbuh sejak menempuh pendidikan sarjana, terutama ketika dirinya mendapat kesempatan menjadi asisten praktikum. Pengalaman berbagi ilmu tersebut membuatnya menyadari bahwa mengajar merupakan bidang yang ingin terus dikembangkan.

Kisah Avi memperlihatkan bahwa prestasi akademik dan penelitian ilmiah dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, ia membuktikan bahwa pendidikan magister dapat diselesaikan melalui perencanaan dan kedisiplinan. Di sisi lain, penelitiannya mengangkat potensi tanaman lokal sebagai objek kajian ilmiah yang relevan dengan tantangan kesehatan modern.

Dari sehelai daun kemangi hingga penelitian sel saraf di laboratorium, perjalanan Avi menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu berawal dari sesuatu yang mahal atau rumit. Terkadang, pertanyaan besar dalam dunia kesehatan justru lahir dari hal sederhana yang selama ini dekat dengan kehidupan sehari-hari. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com