Mohd Haramen

Membaca Sikap Jokowi dan Roy Suryo di Persidangan Perspektif Kitab Al-Hikam

Posted on 2026-11-06 22:32:54 dibaca 48 kali

Oleh : Mohd Haramen

ADA sebuah pelajaran menarik dari ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026). Persidangan yang semestinya menjadi ruang untuk menguji bukti, mendengarkan keterangan, dan mencari kebenaran hukum, justru menghadirkan pemandangan yang mengingatkan kita pada satu persoalan mendasar dalam kehidupan manusia: adab.

Mantan Presiden Joko Widodo hadir memenuhi panggilan sebagai saksi dalam perkara dugaan pencemaran nama baik dan tuduhan terkait ijazahnya. Ia membawa dokumen pendidikan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan memperlihatkannya di hadapan majelis hakim serta pengunjung sidang. Di tengah persidangan, terdapat pula momen ketika dokumen-dokumen terlihat berserakan di lantai dan Jokowi menjongkok mengambilnya.

Di sisi lain, perhatian publik tertuju pada Roy Suryo yang terlihat tertawa ketika Jokowi memperlihatkan ijazahnya. Roy kemudian menjelaskan bahwa tawanya berkaitan dengan penilaiannya terhadap dokumen yang ditampilkan, yang menurutnya berbeda dengan dokumen yang pernah ia lihat sebelumnya.

Dua perilaku tersebut menjadi gambaran kontras yang menarik untuk direnungkan. Namun, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang benar dan siapa yang salah. Ada pertanyaan lebih mendasar: bagaimana seharusnya seorang manusia menjaga kehormatan dirinya ketika sedang dipersoalkan, dan bagaimana seharusnya seseorang bersikap ketika berhadapan dengan orang yang dianggap keliru?

Dalam khazanah Islam, pertanyaan seperti ini bukan persoalan kecil. Ia menyentuh inti pendidikan akhlak.

Merendahkan Diri Tidak Berarti Kehilangan Kehormatan

Dalam tradisi tasawuf, kerendahan hati atau tawadhu merupakan salah satu tanda kematangan spiritual seseorang.

Sikap Jokowi yang mengambil dokumen-dokumen yang berserakan di lantai dapat dibaca sebagai pengingat bahwa jabatan, kekuasaan, dan kehormatan sosial tidak seharusnya membuat seseorang merasa terlalu tinggi untuk melakukan pekerjaan sederhana.

Tentu, satu tindakan tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan karakter seseorang. Namun, secara moral, tindakan tersebut menyampaikan pesan yang patut direnungkan: manusia tidak menjadi hina hanya karena mengambil sesuatu dari lantai, dan tidak menjadi mulia hanya karena pernah menduduki jabatan tinggi.

Dalam Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari memberikan nasihat yang sangat dalam yang artinya

"Tanamlah keberadaan dirimu di tanah kerendahan dan ketidakmenonjolan. Sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam dengan baik tidak akan sempurna hasilnya."

Pesan hikmah ini mengajarkan bahwa kematangan seseorang tidak dibangun melalui keinginan untuk selalu terlihat tinggi, dipuji, atau dihormati. Justru, jiwa yang matang mampu menempatkan dirinya secara wajar, tidak terjebak dalam kebesaran semu, dan tidak merasa kehilangan martabat ketika melakukan sesuatu yang sederhana.

Dalam perspektif ini, mengambil dokumen yang jatuh bukanlah persoalan rendah atau tinggi. Yang lebih penting adalah kesediaan manusia untuk tidak diperbudak oleh gengsi.

Seorang pejabat boleh memiliki kekuasaan, seorang akademisi boleh memiliki gelar, dan seorang tokoh publik boleh memiliki pengaruh. Namun, semua itu tidak boleh menghilangkan kesadaran bahwa di hadapan Allah, manusia tetaplah hamba.

Tertawa Boleh, Tetapi Jangan Kehilangan Adab

Perilaku Roy Suryo yang tertawa ketika Jokowi memperlihatkan ijazahnya juga menarik dikaji melalui perspektif akhlak Islam.

Perlu dibedakan bahwa tertawa bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Bahkan, kritik terhadap dokumen, penelitian, dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari kebebasan berpikir. Akan tetapi, ketika perbedaan pendapat disampaikan di ruang pengadilan, ada etika yang semestinya tetap dijaga.

Roy Suryo sendiri menjelaskan bahwa tawanya berkaitan dengan penilaiannya terhadap perbedaan dokumen yang diperlihatkan. Karena itu, kita tidak boleh serta-merta menyimpulkan isi hati atau niatnya hanya dari ekspresi wajahnya.

Namun, ada prinsip penting yang perlu diingat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 11:

Artinya:

"Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok."

Ayat ini memberikan peringatan bahwa manusia tidak boleh merasa dirinya lebih tinggi hanya karena menganggap orang lain salah.

Dalam pandangan Islam, seseorang boleh berbeda pendapat, boleh membantah, bahkan boleh mengkritik dengan argumentasi yang keras. Namun, kritik tidak boleh berubah menjadi penghinaan, dan perbedaan pendapat tidak semestinya melahirkan perilaku merendahkan martabat manusia.

Prinsip ini juga sejalan dengan pendidikan akhlak Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, khususnya pembahasan tentang bahaya lisan. Beliau mengingatkan bahwa lisan dapat menjadi sumber kerusakan ketika digunakan untuk mencela, menghina, merendahkan, dan menyakiti kehormatan orang lain.

Ada perbedaan besar antara tertawa karena menemukan sesuatu yang dianggap janggal dan tertawa untuk merendahkan seseorang. Yang pertama berkaitan dengan ekspresi spontan, sedangkan yang kedua dapat menjadi persoalan akhlak.

Karena itu, seorang ilmuwan, akademisi, maupun tokoh publik semestinya menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual berjalan beriringan dengan kematangan emosional. Sebab, ilmu tanpa adab dapat kehilangan kemuliaannya. Wallahua'lam

(Penulis adalah masyarakat biasa)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: Arya Abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com