SESI PEMBAHASAN : Kegiatan Dissemination 2026 bertema “Literature in the Crosscurrents of Globalization” yang diselenggarakan Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM)
YOGYAKARTA, bungopos.com – Globalisasi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan membangun hubungan lintas negara. Perubahan itu juga membentuk cara masyarakat memahami identitas, kebudayaan, dan sejarah. Di tengah pergerakan dunia yang semakin terhubung, sastra memiliki peran penting sebagai ruang untuk merekam sekaligus menafsirkan perubahan tersebut.
Gagasan itu menjadi pokok pembahasan dalam konferensi internasional Dissemination 2026 bertema “Literature in the Crosscurrents of Globalization” yang diselenggarakan Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Rabu. Kegiatan akademik tahunan ini diikuti ratusan peserta secara daring dan menghadirkan akademisi dari Indonesia serta Austria.
Acara dibuka dengan sambutan Dekan FIB UGM, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum., kemudian dilanjutkan oleh Ketua Program Studi Magister Sastra, Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.
Akademisi UGM, Prof. Dr. Faruk, S.U., menjadi pembicara utama pertama melalui presentasi bertajuk “Sastra dalam Pusaran Globalisasi: Beberapa Kesan”. Ia menggambarkan globalisasi sebagai pusaran yang mempertemukan berbagai arus manusia, informasi, teknologi, modal, dan ideologi.
Untuk menjelaskan fenomena tersebut, Faruk merujuk pada pemikiran Arjun Appadurai tentang lima arus kebudayaan global, yakni ethnoscapes (pergerakan manusia), mediascapes (arus media), technoscapes (perkembangan teknologi), financescapes (pergerakan modal), dan ideoscapes (penyebaran gagasan serta ideologi).
Pembahasannya juga menghubungkan globalisasi dengan sejumlah pemikiran penting, antara lain teori benturan peradaban Samuel Huntington, masyarakat informasi Manuel Castells, serta konsep disjuncture dari Appadurai yang menjelaskan ketidaksejajaran berbagai arus global.
Dalam konteks kesusastraan, Faruk memandang sastra sebagai karya imajinatif yang menghadirkan kemungkinan-kemungkinan dunia melalui bahasa. Perkembangan media, dari penerbitan cetak hingga platform digital, turut mengubah cara karya sastra diproduksi, disebarkan, dan diterima masyarakat.
Namun, sastra tidak sekadar mengikuti perubahan zaman. Melalui daya imajinasi, sastra juga dapat menawarkan cara pandang alternatif untuk memahami hubungan antarmanusia, kebudayaan, dan berbagai kekuatan yang bergerak di tingkat global.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tujuh makalah oleh delapan presenter. Mereka adalah Brilindra Pandanwangi, Dyah Ayu Prasetyaningrum, Sayyidah Khoizuroonah, Pradita Devis Dukarno, Nio Awandha Nehru, Gerardo Felix Salim, dan Tri Kurniawan Sujoko. Beragam penelitian yang dipresentasikan memperlihatkan luasnya pendekatan dan perkembangan kajian sastra kontemporer.
Perspektif internasional semakin kuat melalui kehadiran Mag. Dr. Stefan Kutzenberger dari Universität Wien, Austria. Dalam presentasi berjudul “Vienna around 1900: Disputes and Demystification of Narrative”, ia mengajak peserta menelusuri kehidupan Wina pada masa peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20.
Dengan dukungan dokumentasi visual, Kutzenberger memperlihatkan perubahan wajah kota Wina, perkembangan kawasan Ringstraße, serta tumbuhnya berbagai institusi kebudayaan, seperti galeri seni, teater, dan Universitas Wina.
Ia juga mengangkat sejumlah tokoh berpengaruh, termasuk Sigmund Freud dan Gustav Klimt, serta perkembangan gerakan seni Secession. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bagaimana perubahan tata kota, kehidupan intelektual, dan perkembangan seni saling memengaruhi dalam membentuk identitas kebudayaan Wina.
Pertemuan perspektif Indonesia dan Austria dalam forum ini memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi jembatan untuk memahami pengalaman masyarakat yang berbeda. Karya sastra tidak hanya berbicara tentang kehidupan di suatu tempat, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai persoalan kemanusiaan yang melampaui batas geografis.
Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan sekaligus menyerahkan penghargaan kepada presenter terpilih dalam kategori Best Paper dan Best Presenter. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kualitas penelitian dan kemampuan peserta dalam menyampaikan gagasan akademik.
Kesuksesan kegiatan ini juga ditopang kerja kolaboratif 11 orang panitia yang menangani berbagai kebutuhan, mulai dari koordinasi dengan pembicara dan presenter, penyusunan agenda, hingga pengelolaan teknis konferensi daring. Seluruh koordinasi dilakukan dari lantai dua Perpustakaan Universitas Gadjah Mada.
Ketua panitia, Rini Febriani, mengatakan bahwa kepanitiaan bukan sekadar pembagian tugas, melainkan proses belajar dan bekerja bersama. Ia mengibaratkan tim sebagai satu tubuh yang setiap bagiannya memiliki peran dan saling membutuhkan.
Menurutnya, komunikasi, dukungan, dan kesediaan untuk saling menguatkan menjadi kunci dalam mempersiapkan hingga menyelesaikan kegiatan. Rini juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota panitia atas waktu, tenaga, dan komitmen yang telah diberikan.
Sebagai agenda tahunan Magister Sastra FIB UGM, Dissemination 2026 menjadi ruang bagi para akademisi untuk mempertemukan hasil penelitian, gagasan, dan perspektif lintas negara. Forum ini sekaligus menegaskan bahwa di tengah globalisasi, sastra tetap relevan sebagai medium untuk membaca perubahan dunia, merawat keberagaman, dan memperluas pemahaman antarkebudayaan. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com