Hj.Ernawti S,Ag M.Pd ketua ISMI provinsi Jambi

Menjaga Amanah, Merawat Jambi, Menanam Kebaikan untuk Generasi

Posted on 2026-10-02 12:53:02 dibaca 205 kali

Oleh: Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd.

Ketua ISMI Provinsi Jambi

Ada kalanya niat baik tidak langsung dipahami sebagai kebaikan. Ada saatnya langkah yang kita pilih mendapat keraguan, teguran, bahkan perbedaan pandangan. Tetapi hidup mengajarkan satu hal: tidak semua jalan menuju kebaikan selalu mudah.

Yang terpenting adalah menjaga niat, memperbaiki cara dan memastikan bahwa setiap langkah benar-benar diarahkan untuk kemaslahatan.

Sebab bagi seorang manusia, amanah bukan sekadar kepercayaan. Amanah adalah tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT.

Jabatan adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Harta adalah amanah. Kedudukan adalah amanah. Bahkan kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain pun merupakan amanah.

Karena itu, ketika seseorang diberi kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat, pertanyaan yang semestinya lebih dahulu hadir bukanlah, “Apa yang akan saya dapat?”

Melainkan:

“Apa yang bisa saya berikan?”

Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa jalan kebaikan tidak selalu diwarnai penerimaan. Dalam perjalanan dakwah, beliau menghadapi penolakan, hinaan dan berbagai tekanan. Namun semua itu tidak menghilangkan kasih sayang dan keteguhan beliau dalam menyampaikan kebaikan.

Dari sana kita belajar bahwa berbuat baik membutuhkan kesabaran.

Bukan berarti setiap perbedaan harus dilawan. Justru sebaliknya. Perbedaan harus disikapi dengan kedewasaan, musyawarah dan kelembutan.

Kita boleh tegas, tetapi tidak harus kasar.

Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak harus bermusuhan.

Kita boleh menyampaikan kritik, tetapi tidak harus merendahkan.

Sebab tujuan yang baik akan kehilangan makna apabila ditempuh dengan cara yang tidak baik.

Jambi Bukan Sekadar Tempat Tinggal

Bagi saya, Jambi bukan sekadar wilayah administratif atau sebuah nama yang tercantum di peta.

Jambi adalah rumah.

Di tanah ini ada sejarah yang panjang, adat yang diwariskan, budaya yang dijaga dan nilai keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kita mengenal falsafah:

“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”

Falsafah itu seharusnya tidak berhenti sebagai ungkapan. Ia harus menjadi nilai yang hidup dalam keseharian.

Sebab membangun Jambi bukan hanya tentang membangun jalan, gedung dan berbagai fasilitas. Membangun daerah juga berarti membangun manusianya.

Membangun karakter.

Menanam akhlak.

Menguatkan kepedulian.

Menjaga nilai agama.

Dan memastikan generasi yang tumbuh di Jambi memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi masa depan.

Kita tentu tidak ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang menguasai teknologi tetapi kehilangan arah.

Kita tidak ingin mereka menjadi generasi yang memiliki banyak pengetahuan tetapi miskin kepedulian.

Kita tidak ingin kemajuan zaman justru membuat mereka semakin jauh dari agama, keluarga dan nilai-nilai luhur budaya.

Karena itu, persoalan generasi bukan hanya tanggung jawab orang tua.

Pemerintah memiliki tanggung jawab. Sekolah memiliki tanggung jawab. Tokoh agama memiliki tanggung jawab. Masyarakat memiliki tanggung jawab. Organisasi kemasyarakatan juga memiliki tanggung jawab.

m

Pada akhirnya, kita semua memiliki bagian.

Dari “Apa yang Saya Dapat?” Menjadi “Apa yang Saya Berikan?”

Barangkali sudah waktunya kita mengubah cara pandang.

Jangan hanya bertanya:

Apa yang saya dapat dari Jambi?

Tetapi tanyakan pula:

Apa yang bisa saya berikan untuk Jambi?

Jangan hanya bertanya apa yang negara berikan kepada kita. Tanyakan juga apa yang dapat kita lakukan untuk masyarakat dan bangsa.

Sebab kehidupan seorang mukmin tidak semestinya berhenti pada dirinya sendiri.

Ketika kita memiliki rezeki lebih, ada orang lain yang membutuhkan.

Ketika kita memiliki ilmu, ada orang lain yang membutuhkan pengetahuan.

Ketika kita memiliki kekuatan, ada orang lain yang membutuhkan perlindungan.

Ketika kita memiliki kesempatan, ada orang lain yang mungkin membutuhkan uluran tangan.

Di situlah makna pengabdian menemukan tempatnya.

Islam mengajarkan bahwa kebaikan harus menghadirkan manfaat. Kesalehan tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama.

Itulah semangat Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Jangan Jadikan Dunia sebagai Ukuran Segalanya.

Kita memang membutuhkan dunia.

Kita membutuhkan pekerjaan, penghasilan, rumah, kendaraan dan berbagai kebutuhan kehidupan.

Namun jangan sampai semua itu menjadi ukuran tunggal keberhasilan.

Sebab pada akhirnya, harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan berlalu. Pujian manusia tidak akan ikut bersama kita ketika kembali kepada Allah SWT.

Yang akan menjadi bekal adalah amal.

Karena itu, ilmu harus digunakan untuk mencerdaskan.

Harta digunakan untuk membantu.

Jabatan digunakan untuk melayani.

Kekuatan digunakan untuk melindungi.

Kesempatan digunakan untuk mengabdi.

Dan pengaruh digunakan untuk menghadirkan manfaat.

Jika semua itu dilakukan dengan niat yang baik dan ikhlas, insyaallah akan menjadi bagian dari amal yang bernilai.

Menjaga Generasi Adalah Menjaga Masa Depan Jambi

Ada satu hal yang seharusnya membuat kita lebih banyak merenung: bukan hanya tentang keadaan Jambi hari ini, tetapi tentang Jambi 20 atau 30 tahun yang akan datang.

Bagaimana anak-anak kita kelak?

Apakah mereka masih mengenal Allah SWT?

Apakah mereka masih mencintai Rasulullah SAW?

Apakah mereka masih menghormati orang tua?

Apakah mereka masih mengenal adat dan budaya Melayu?

Apakah mereka masih memiliki kepedulian terhadap orang lain?

Dan yang paling penting, apakah mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kuat secara ilmu sekaligus kokoh dalam iman dan akhlak?

Masa depan tidak boleh kita serahkan begitu saja kepada keadaan.

Kita harus mengambil bagian.

Mulai dari keluarga.

Mulai dari sekolah.

Mulai dari lingkungan.

Mulai dari masjid.

Mulai dari komunitas.

Dan tentu saja, mulai dari diri sendiri.

Sebab generasi tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan. Mereka juga belajar dari apa yang kita lakukan.

Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Mereka melihat bagaimana kita menghadapi perbedaan.

Mereka melihat bagaimana kita menggunakan jabatan, ilmu, harta dan kesempatan

Dan dari sanalah karakter mereka perlahan terbentuk.

Kebaikan Tidak Harus Menunggu Sempurna

Kita tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai berbuat baik.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Kita pernah salah. Kita pernah keliru. Kita pernah berbeda pandangan.

Tetapi kesalahan bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Perbedaan bukan alasan untuk memutus persaudaraan.

Dan kekurangan bukan alasan untuk berhenti memberikan manfaat.

Jika ada kekurangan, mari kita perbaiki.

Jika ada kesalahan, mari kita koreksi.

Jika ada perbedaan, mari kita musyawarahkan.

Jika ada kritik, mari kita terima sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.

Dan jika ada kesempatan untuk berbuat baik, jangan terlalu lama menunggu.

Lakukan.

Sebab boleh jadi, kebaikan kecil yang kita anggap sederhana justru menjadi sesuatu yang besar nilainya di hadapan Allah SWT.

Merawat Jambi adalah Tanggung Jawab Bersama.

Saya tidak ingin perjalanan pengabdian dipahami sebagai perjuangan seseorang atau kelompok tertentu.

Merawat Jambi adalah ikhtiar bersama.

Jambi adalah rumah kita.

Anak-anak Jambi adalah amanah kita.

Masa depan Jambi adalah tanggung jawab kita.

Karena itu, mari berhenti melihat pembangunan hanya sebagai pekerjaan pemerintah. Pembangunan juga membutuhkan masyarakat yang mau peduli, mau terlibat dan mau mengambil bagian.

Kita mungkin tidak mampu melakukan semuanya.

Tetapi kita selalu bisa melakukan sesuatu.

Tidak semua orang harus menjadi pemimpin.

Tidak semua orang harus memiliki jabatan.

Tidak semua orang harus memiliki pengaruh besar.

Tetapi setiap orang bisa menjadi bagian dari kebaikan.

Seorang guru bisa menanamkan ilmu.

Orang tua bisa menanamkan akhlak.

Tokoh agama bisa menanamkan nilai.

Pelaku usaha bisa membuka kesempatan.

Pemuda bisa menghadirkan gagasan.

Masyarakat bisa menjaga lingkungan.

Dan siapa pun kita, selalu ada ruang untuk memberikan manfaat.

Pada akhirnya, kita akan kembali kepada Allah SWT.

Ketika saat itu tiba, bukan popularitas yang akan kita bawa.

Bukan jabatan.

Bukan harta.

Bukan pujian.

Tetapi amal dan amanah yang telah kita jalankan.

Maka semoga ketika kelak kita berdiri di hadapan Allah SWT, kita dapat berkata dengan penuh kerendahan hati:

“Ya Allah, kami telah berusaha. Kami telah menggunakan apa yang Engkau titipkan kepada kami untuk membantu sesama dan menjaga amanah.”

Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari kesombongan, kebencian dan kepentingan pribadi.

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk terus istiqamah dalam kebaikan.

Semoga Jambi menjadi rumah yang semakin maju, berilmu, beradab, sejahtera dan religius.

Dan semoga anak-anak Jambi tumbuh menjadi generasi yang mencintai Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW, menghormati orang tua, menjaga adat dan budaya, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Mari kita rawat Jambi dengan ilmu.

Mari kita bangun Jambi dengan akhlak.

Mari kita jaga generasi dengan kasih sayang.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita hadir di dunia, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan setelah kita pergi.(*)

Penulis: Hj.Ernawti S,Ag M.Pd
Editor: Linnaliska
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com