PENURUNAN PENDAPATAN : Setiap kenaikan suhu udara 1 derajat celcius

Setiap Kenaikan Suhu Udara 1 Derajat Celsius, 14 Persen Pendapatan UMKM Hilang

Posted on 2026-09-10 13:42:47 dibaca 25 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Kenaikan suhu bukan lagi sekadar persoalan cuaca yang membuat siang terasa semakin menyengat. Di Indonesia, panas yang meningkat mulai menyentuh persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: pendapatan usaha kecil.

Ketika temperatur naik, tubuh pekerja lebih cepat mengalami kelelahan. Ritme kerja melambat, waktu istirahat bertambah, sementara kemampuan berkonsentrasi dan mengambil keputusan ikut terganggu. Bagi usaha rumah tangga yang bergantung pada tenaga manusia dan beroperasi dengan margin terbatas, setiap penurunan produktivitas dapat langsung berarti kehilangan pendapatan.

Temuan itu terungkap dalam penelitian terbaru tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., Elan Satriawan, S.E., M.Ec., Ph.D., dan Esa Azali Asyahid, S.E., M.Sc., bersama peneliti dari Department of Economics, College of William and Mary.

Melalui penelitian bertajuk Climate Change and Small Business Productivity, mereka mengukur bagaimana perubahan temperatur memengaruhi produktivitas usaha rumah tangga di Indonesia.

Riset tersebut menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang dipadukan dengan catatan historis temperatur dan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada usaha kecil berbasis rumah tangga karena sektor ini memiliki peran besar dalam perekonomian, tetapi umumnya memiliki sumber daya yang lebih terbatas untuk beradaptasi terhadap perubahan cuaca.

Indonesia sendiri memiliki struktur ekonomi yang sangat bergantung pada usaha kecil. Sekitar 99 persen unit usaha berada dalam kategori UMKM dan sebagian besar memiliki keterkaitan erat dengan rumah tangga.

Temuan penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara kenaikan temperatur dan penurunan pendapatan usaha. Ketika suhu tahunan meningkat 1 derajat Celsius dari kondisi normal suatu wilayah, pendapatan usaha dapat turun sekitar 13 hingga 14 persen. Dampaknya terhadap pendapatan per pekerja bahkan bisa mencapai sekitar 20 persen.

“Kami menemukan bahwa kenaikan temperatur tahunan sebesar 1 derajat Celsius dari kondisi normal menyebabkan penurunan pendapatan usaha sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, pendapatan tiap pekerja dapat turun hingga sekitar 20 persen,” ujar Esa dalam Research Series bertajuk Climate Change and Small Business Productivity.

Angka tersebut memberikan gambaran sederhana tentang besarnya risiko ekonomi akibat panas. Jika sebuah UMKM biasanya menghasilkan omzet tahunan Rp60 juta, kenaikan temperatur 1 derajat Celsius dari kondisi normal secara ilustratif dapat memangkas pendapatannya hingga di bawah Rp52 juta.

Di sinilah perubahan iklim mulai terlihat bukan sebagai persoalan yang jauh dan abstrak, melainkan sebagai tekanan ekonomi yang dapat masuk langsung ke ruang usaha, dapur produksi, toko, bengkel, hingga pekerjaan informal yang berlangsung di bawah terik matahari.

Penelitian itu juga menemukan bahwa hubungan antara temperatur dan produktivitas tidak berjalan secara linear. Polanya menyerupai huruf U terbalik. Produktivitas cenderung berada pada tingkat optimal ketika temperatur rata-rata tahunan berada di kisaran 25–26 derajat Celsius. Setelah melewati titik tersebut, produktivitas mulai menurun secara signifikan.

Temuan itu menjadi semakin penting ketika dibandingkan dengan kondisi suhu di Indonesia. Rata-rata temperatur di banyak wilayah telah berada di sekitar 26,6 derajat Celsius. Di kawasan Jabodetabek, suhu maksimum harian bahkan belakangan dapat mencapai 36 derajat Celsius.

Tekanan paling besar terlihat pada usaha kecil dan sektor padat karya, termasuk konstruksi, manufaktur, serta usaha makanan. Pada pekerjaan yang sangat bergantung pada tenaga fisik dan konsentrasi, panas dapat menjadi semacam “biaya tersembunyi” yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi nyata menggerus produktivitas.

“Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja,” kata Esa.

Masalahnya, ketika produktivitas turun, biaya usaha tidak serta-merta ikut turun. Sewa tempat, listrik, bahan baku, transportasi, cicilan, hingga biaya operasional lainnya tetap berjalan. Pelaku usaha akhirnya menghadapi situasi yang sulit: bekerja lebih lambat, tetapi harus membayar biaya yang relatif sama.

Jika berlangsung terus-menerus, tekanan tersebut dapat memperlebar ketimpangan. Pelaku usaha besar memiliki lebih banyak pilihan untuk beradaptasi—mulai dari teknologi pendingin, perubahan desain tempat kerja, hingga pengaturan ulang jam operasional. Sebaliknya, usaha kecil sering kali tidak memiliki ruang finansial untuk melakukan investasi serupa.

Karena itu, perubahan iklim tidak lagi cukup dipandang sebagai isu lingkungan. Ia telah berkembang menjadi persoalan produktivitas, pendapatan, perlindungan tenaga kerja, dan ketahanan ekonomi.

Esa menilai kebijakan adaptasi iklim pemerintah perlu memberi perhatian lebih besar kepada sektor informal dan usaha kecil. Selama ini, strategi adaptasi lebih banyak diarahkan kepada industri besar dan sektor pertanian, sementara risiko temperatur terhadap usaha kecil belum secara eksplisit menjadi bagian penting dalam regulasi dan kebijakan.

Intervensi dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari insentif finansial dan akses terhadap teknologi pendingin, pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel, hingga perlindungan sosial yang mampu merespons guncangan akibat cuaca ekstrem.

Sebab bagi jutaan pelaku usaha kecil, perubahan iklim tidak datang dalam bentuk grafik temperatur atau laporan akademik. Ia datang sebagai siang yang semakin panas, tubuh yang lebih cepat lelah, pelanggan yang berkurang, pekerjaan yang melambat, dan pendapatan yang menyusut.

Dan ketika suhu terus naik, pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan iklim akan memengaruhi ekonomi Indonesia. Pertanyaannya adalah seberapa siap ekonomi yang paling kecil untuk bertahan ketika panas menjadi bagian permanen dari biaya kehidupan dan usaha. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com