PELATIHAN : Mustahiq miskin diberikan pelatihan sablon
MUARA BULIAN, bungopos.com — Bagi sebagian orang, selembar kain, tinta, dan sebuah alat sablon mungkin hanya benda biasa. Namun bagi para mustahik penerima manfaat program pemberdayaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Batang Hari, benda-benda tersebut dapat menjadi awal dari sebuah ikhtiar untuk membangun kehidupan ekonomi yang lebih mandiri.
Harapan itulah yang mengemuka dalam Pelatihan Sablon bagi Mustahik yang digelar BAZNAS Kabupaten Batang Hari di Gedung PKK Muara Bulian, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti para mustahik dari delapan kecamatan di Kabupaten Batang Hari.
Mereka bukan sekadar peserta pelatihan. Mereka adalah para penerima manfaat dana zakat yang kini diberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan sekaligus sarana produksi agar memiliki peluang mengembangkan usaha secara mandiri.
Di ruangan pelatihan, proses pemberdayaan itu dimulai dari hal-hal sederhana. Peserta diperkenalkan dengan teknik sablon manual, belajar mengenali peralatan, memahami proses pencetakan, hingga melihat bagaimana sebuah keterampilan dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi yang menghasilkan.
Ketua BAZNAS Kabupaten Batang Hari, H Muslim, M.Sy., saat membuka kegiatan tersebut mengingatkan para mustahik agar memanfaatkan kesempatan yang diberikan dengan sungguh-sungguh.
Di hadapan seluruh unsur pimpinan BAZNAS dan peserta pelatihan, ia menegaskan bahwa program tersebut memiliki tanggung jawab yang tidak ringan karena seluruh pembiayaannya bersumber dari dana zakat yang dihimpun dari masyarakat.
Karena itu, kesempatan mengikuti pelatihan tidak boleh berhenti sebagai pengalaman selama dua hari. Pengetahuan yang diperoleh harus dipraktikkan dan dikembangkan menjadi aktivitas produktif.
"Manfaatkan kegiatan ini sebaik mungkin. Dana ini diperoleh dari zakat para muzaki. Jangan menyia-nyiakan kegiatan pelatihan ini," pesan H Muslim.
Pesan tersebut sekaligus mempertegas filosofi yang ingin dibangun BAZNAS: zakat tidak hanya hadir untuk membantu mustahik memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan agar mereka memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Karena itu, pelatihan sablon dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan peningkatan keterampilan. BAZNAS juga memberikan alat sablon manual kepada para mustahik peserta pelatihan agar ilmu yang diperoleh dapat langsung dipraktikkan setelah kegiatan berakhir.
Penanggung jawab kegiatan yang juga Wakil Ketua III BAZNAS Kabupaten Batang Hari, Iskandar, S.E., M.E., mengatakan pemberian alat tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS untuk mendorong peserta agar tidak berhenti pada tahap belajar.
"BAZNAS tidak hanya memberikan pelatihan kepada para peserta yang berasal dari delapan kecamatan tersebut. Tetapi juga memberikan alat sablon manual," ujarnya.
Ia berharap fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh para mustahik untuk memulai kegiatan produktif, baik secara individu maupun dikembangkan menjadi usaha bersama.
"Kami berharap alat tersebut dapat digunakan semaksimal mungkin," katanya.
BAZNAS bahkan akan melakukan pemantauan untuk memastikan bantuan tersebut benar-benar digunakan sesuai tujuan program.
"Kami akan mengecek setelah satu bulan ke depan, apakah digunakan atau tidak," tegas Iskandar.
Pemantauan tersebut menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan. Sebab, keberhasilan program zakat produktif tidak cukup diukur dari berapa banyak mustahik yang menerima bantuan atau mengikuti pelatihan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana bantuan tersebut mampu menghasilkan perubahan dalam kehidupan penerima manfaat.
Bagi para mustahik, alat sablon yang dibawa pulang bukan sekadar bantuan berupa barang. Ia adalah modal produktif—sebuah kesempatan untuk mencoba membangun usaha, menciptakan pendapatan, dan perlahan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan.
Dari kaus komunitas, seragam kegiatan, pakaian organisasi, merchandise, hingga berbagai produk kreatif, keterampilan sablon memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.
Di situlah nilai strategis program ini terlihat. BAZNAS berupaya menggeser paradigma pemberian zakat dari sekadar konsumtif menuju pemberdayaan yang memungkinkan mustahik memiliki keterampilan dan alat produksi.
Prosesnya tentu tidak instan. Setelah pelatihan selesai, masih ada pekerjaan yang jauh lebih penting: berani memulai, menjaga konsistensi, mencari pelanggan, mengelola keuangan, meningkatkan kualitas produk, dan membangun jaringan pemasaran.
Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari sebuah langkah kecil.
Senin itu, langkah tersebut dimulai di Gedung PKK Muara Bulian. Para mustahik tidak hanya belajar bagaimana memindahkan tinta ke atas kain. Mereka sedang belajar mengubah keterampilan menjadi nilai ekonomi dan mengubah bantuan menjadi kesempatan.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini bukan hanya ketika seorang mustahik mampu menghasilkan sebuah kaus bersablon.
Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika dari alat tersebut lahir sebuah usaha, dari usaha muncul pendapatan, dan dari pendapatan tumbuh kemandirian ekonomi seorang mustahik.
Sebab cita-cita pemberdayaan zakat pada akhirnya bukan sekadar membuat mustahik mampu bertahan hidup, tetapi membuka jalan agar mereka perlahan mampu berdiri di atas kaki sendiri—bahkan suatu hari bertransformasi dari penerima zakat menjadi pemberi zakat. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com