BERBAHAYA : Asap kendaraan bermotor di jalan raya

Mengerikan ! Asap Kendaraan Bermotor di Jalan Raya Bunuh 1 Orang Setiap 26 Detik

Posted on 2026-08-13 13:19:10 dibaca 137 kali

JAMBI, bungopos.com - Satu orang. Setiap 26 detik. Jika tidak ada langkah tambahan untuk mengendalikan emisi kendaraan, itulah gambaran suram yang diproyeksikan terjadi pada 2050 akibat dampak polusi udara dari transportasi jalan raya.

Temuan terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) menunjukkan, kematian dini yang berkaitan dengan polusi transportasi jalan raya berpotensi meningkat 74 persen pada 2050. Dalam hitungan yang lebih mudah dibayangkan, jika saat ini satu kematian terjadi setiap sekitar 45 detik, maka pada 2050 kecepatannya dapat meningkat menjadi satu kematian setiap 26 detik.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada manusia yang kehilangan nyawa, keluarga yang kehilangan anggota keluarga, dan anak-anak yang harus tumbuh dengan risiko kesehatan akibat udara yang mereka hirup setiap hari.

Pada 2024 saja, polusi dari transportasi jalan raya diperkirakan berkontribusi terhadap hampir 700.000 kematian dini di seluruh dunia. Pada tahun yang sama, paparan polutan dari sektor ini juga dikaitkan dengan sekitar 250.000 kasus baru asma pada anak.

Studi ICCT tersebut menelusuri dampak kesehatan dari sejumlah polutan udara utama, terutama partikulat halus PM2.5, ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NO2). Untuk pertama kalinya dalam studi kesehatan global ICCT, dampak kematian dini akibat NO2 juga dimasukkan dalam analisis.

Hasilnya menunjukkan bahwa transportasi jalan raya bukan sekadar persoalan kemacetan, konsumsi bahan bakar, atau emisi kendaraan. Ia telah menjadi bagian dari persoalan kesehatan masyarakat global.

Transportasi jalan raya menyumbang sekitar 20 persen paparan NO2 global. Bahkan, kematian yang berkaitan dengan NO2 mencapai sekitar 37 persen dari total kematian dini yang dikaitkan dengan transportasi jalan raya.

Sementara itu, transportasi jalan raya menyumbang sekitar 2,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) terhadap paparan PM2.5 global yang diperhitungkan berdasarkan populasi. Angka tersebut hampir setengah dari pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk paparan polusi udara dari seluruh sumber.

Yang membuat proyeksi ini semakin menarik adalah sebuah paradoks: sebagian besar polutan udara dari transportasi jalan raya diperkirakan menurun, tetapi jumlah kematian dini justru dapat meningkat.

Mengapa?

Salah satu jawabannya adalah meningkatnya aktivitas kendaraan di berbagai wilayah yang memiliki pengendalian emisi lebih lemah. Pada saat yang sama, populasi dunia terus bertambah tua. Masyarakat lanjut usia cenderung lebih rentan terhadap dampak polusi udara.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya berapa banyak polutan yang keluar dari knalpot. Persoalannya juga menyangkut berapa banyak kendaraan yang beroperasi, seberapa jauh kendaraan digunakan, di mana kendaraan tersebut beroperasi, seberapa ketat standar emisinya, dan siapa yang paling rentan terhadap dampaknya.

Namun, masa depan tidak sepenuhnya harus mengikuti skenario suram tersebut.

Studi ICCT memperlihatkan bahwa perubahan kebijakan dan percepatan elektrifikasi kendaraan dapat membalikkan arah tersebut.

Dalam skenario ambisius, kematian dini akibat polusi transportasi jalan raya pada 2050 diproyeksikan turun 63 persen, sementara kasus baru asma pada anak dapat turun 80 persen dibandingkan tingkat 2024.

Dampaknya sangat besar jika dihitung secara kumulatif.

Sepanjang 2024 hingga 2050, langkah-langkah ambisius untuk mengurangi emisi transportasi berpotensi mencegah hampir 8,8 juta kematian dini dan sekitar 1,7 juta kasus baru asma pada anak.

Angka 8,8 juta itu menjadi pengingat bahwa kebijakan transportasi pada dasarnya juga merupakan kebijakan kesehatan.

Elektrifikasi kendaraan bukan semata-mata tentang mengganti mesin berbahan bakar fosil dengan motor listrik. Ia merupakan bagian dari upaya membangun kota yang lebih sehat, mengurangi paparan polusi, melindungi anak-anak, dan memperpanjang usia hidup masyarakat.

Tentu, kendaraan listrik bukan satu-satunya jawaban. Pengendalian emisi yang lebih ketat, transportasi publik yang kuat, perencanaan kota yang baik, teknologi kendaraan yang lebih bersih, serta pengurangan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi juga menjadi bagian penting dari solusi.

Sebab, jalan raya adalah urat nadi ekonomi modern. Tetapi ketika mobilitas manusia tumbuh tanpa diimbangi pengendalian dampak lingkungan dan kesehatan, biaya yang harus dibayar masyarakat bisa sangat mahal.

Dan pada akhirnya, perdebatan tentang kendaraan bukan hanya tentang mobil apa yang akan kita gunakan.

Ini tentang udara seperti apa yang akan kita hirup.

Tentang apakah anak-anak kita akan tumbuh di kota dengan udara yang lebih bersih atau justru semakin terpapar polusi.

Tentang apakah teknologi dan pertumbuhan ekonomi mampu berjalan seiring dengan kesehatan manusia.

Karena itu, pertanyaan terbesar menuju 2050 bukanlah berapa juta kendaraan yang akan memenuhi jalan raya dunia.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih penting: berapa banyak nyawa yang dapat kita selamatkan jika kita mengambil keputusan yang tepat hari ini? (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://theicct.org/publication/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com