TANAMAN OBAT : Kencur
YOGYAKARTA, bungopos.com — Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan berbasis bahan alam, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan secercah harapan baru bagi penderita gangguan penglihatan akibat peradangan saraf mata. Kombinasi dua tanaman herbal asli Indonesia, daun pegagan (Centella asiatica) dan kencur hitam (Kaempferia galanga), menunjukkan potensi besar sebagai terapi pendamping untuk membantu mempertahankan fungsi penglihatan.
Temuan ini merupakan hasil penelitian yang menggabungkan kekayaan biodiversitas Indonesia dengan pendekatan ilmiah modern. Tidak hanya berfokus pada manfaat kesehatan, riset tersebut juga diarahkan untuk mendorong pemberdayaan petani, pelaku UMKM, dan ekonomi kreatif berbasis produk herbal lokal.
Dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M., FRSPH., dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, menjelaskan bahwa penelitian ini lahir dari keyakinan bahwa tanaman herbal Indonesia memiliki potensi besar apabila dibuktikan secara ilmiah.
"Kombinasi kencur hitam dan daun pegagan memiliki potensi sebagai terapi pendamping bagi penderita neuritis optik berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Kencur hitam merupakan tanaman herbal khas Yogyakarta yang berpeluang dikembangkan menjadi produk unggulan bernilai ekonomi tinggi," ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Wedang Sahaja: Formulasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam sebagai Suplemen Pasien Saraf Mata melalui Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Difabel di Kota Yogyakarta".
Mampu Menjaga Fungsi PenglihatanNeuritis optik merupakan peradangan pada saraf mata yang dapat menyebabkan penurunan penglihatan secara mendadak, bahkan berisiko menimbulkan kebutaan apabila tidak ditangani dengan baik.
Selama ini, terapi utama bagi penderita neuritis optik akut masih mengandalkan pemberian kortikosteroid dosis tinggi. Namun, para peneliti terus mencari terapi pendamping yang mampu melindungi jaringan saraf mata dari kerusakan lebih lanjut.
dr. Muhammad Taufiq Hidayat dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM mengungkapkan bahwa hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak kencur hitam dan daun pegagan memiliki efek neuroprotektif, yakni membantu melindungi sel-sel saraf.
"Hasil penelitian memperlihatkan bahwa manfaat kombinasi kedua tanaman tersebut sebanding dengan vitamin B12 dalam membantu mempertahankan fungsi penglihatan pada pasien neuritis optik akut," jelasnya.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian masih terus berlanjut sehingga diperlukan uji klinis yang lebih luas sebelum produk ini dapat direkomendasikan sebagai bagian dari terapi medis rutin.
Dari Laboratorium Menuju Pemberdayaan MasyarakatPenelitian ini tidak berhenti pada aspek kesehatan semata. UGM juga merancang pengembangan produk herbal yang melibatkan petani, UMKM, serta komunitas difabel agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas.
Founder sekaligus Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur, Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa edukasi kepada masyarakat untuk menggunakan produk lokal menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, produk-produk herbal hasil UMKM memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan industri berskala besar. Karena itu, diperlukan dukungan pasar agar inovasi lokal mampu berkembang dan bersaing.
"Pengembangan produk herbal berbasis penelitian tidak hanya menjadi inovasi di bidang kesehatan, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari besarnya omzet, melainkan dari kemampuan menghadirkan produk yang unik, meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Mengangkat Potensi Herbal IndonesiaPengembangan formulasi pegagan dan kencur hitam diharapkan mampu menciptakan rantai nilai yang saling menguntungkan, mulai dari petani sebagai penyedia bahan baku, UMKM sebagai pengolah produk, komunitas difabel sebagai mitra pemberdayaan, akademisi sebagai pengembang inovasi, pemerintah sebagai fasilitator, hingga masyarakat sebagai pengguna akhir.
Jika penelitian ini berhasil dikembangkan hingga tahap komersialisasi, Indonesia berpeluang memiliki produk herbal berbasis bukti ilmiah yang tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga memperkuat daya saing industri herbal nasional di pasar global.
Di negeri yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia, penelitian ini menjadi bukti bahwa tanaman tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sumber inovasi masa depan yang mampu menjawab tantangan kesehatan sekaligus membuka peluang ekonomi baru. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com