KESENJANGAN UPAH : Antara lelaki dan perempuan di dunia kerja
JAKARTA, bungopos.com – Di balik derap pertumbuhan ekonomi Indonesia, tersimpan sebuah kenyataan yang jarang menjadi sorotan. Ratusan ribu perempuan memilih berhenti mencari pekerjaan, bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena kehilangan harapan.
Hasil Penelitian Celios menunjukkan sebanyak 623.937 perempuan berusia 15–65 tahun masuk dalam kategori putus asa mencari pekerjaan. Mereka sebenarnya ingin bekerja, memiliki kemampuan, bahkan terus berupaya mencari peluang. Namun, setelah berkali-kali gagal menembus pasar kerja, harapan itu perlahan memudar.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa pasar kerja Indonesia masih menyisakan persoalan besar. Kesempatan memperoleh pekerjaan belum sepenuhnya terbuka secara adil bagi perempuan, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi sosial tertentu.
Kelompok yang paling banyak mengalami situasi ini adalah perempuan belum menikah. Sekitar 77,32 persen dari perempuan yang putus asa mencari kerja berasal dari kelompok ini, dengan dominasi usia 15 hingga 30 tahun. Mereka berada pada usia paling produktif, tetapi justru menghadapi pintu kesempatan yang semakin sempit.
Di sisi lain, perempuan yang telah menikah juga menghadapi tantangan yang tidak kalah berat. Sekitar 50,83 persen di antaranya mengaku terkendala oleh diskriminasi yang berkaitan dengan status perkawinan. Tidak sedikit perusahaan yang masih mempertimbangkan kondisi keluarga perempuan sebagai alasan untuk membatasi kesempatan bekerja.
Situasi menjadi lebih sulit bagi perempuan yang telah bercerai, terutama mereka yang berusia 51 hingga 60 tahun. Selain menghadapi stigma gender, mereka juga harus berhadapan dengan diskriminasi usia. Akibatnya, pengalaman panjang yang mereka miliki sering kali tidak lagi dipandang sebagai nilai tambah, melainkan dianggap sebagai hambatan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada rendahnya kompetensi perempuan. Yang menjadi tantangan sesungguhnya adalah masih adanya struktur pasar kerja yang belum sepenuhnya inklusif dan masih menyimpan praktik-praktik diskriminatif berdasarkan gender, usia, maupun status perkawinan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu. Ketika ratusan ribu perempuan kehilangan akses terhadap pekerjaan, Indonesia juga kehilangan sumber daya manusia yang produktif. Potensi ekonomi yang seharusnya dapat mendorong pertumbuhan justru tidak termanfaatkan secara optimal.
Di saat yang sama, meningkatnya jumlah perempuan yang keluar dari pasar kerja berpotensi memperbesar ketergantungan terhadap bantuan sosial, meningkatkan kerentanan ekonomi rumah tangga, serta memperlebar kesenjangan sosial. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperlambat laju pembangunan nasional.
Karena itu, para pengamat menilai persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Perubahan juga harus menyentuh sistem yang mengatur dunia kerja. Reformasi kebijakan ketenagakerjaan, perlindungan terhadap hak-hak perempuan, penerapan aturan anti-diskriminasi, hingga budaya kerja yang lebih inklusif menjadi langkah penting yang harus diwujudkan.
Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia kerja memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi. World Bank menyebutkan bahwa meningkatnya partisipasi perempuan dalam angkatan kerja berpotensi memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Karena itu, membuka akses yang lebih luas bagi perempuan bukan hanya soal keadilan, tetapi juga merupakan strategi pembangunan yang cerdas.
Pada akhirnya, kisah 623.937 perempuan yang berhenti mencari pekerjaan bukan sekadar deretan angka statistik. Di balik setiap angka terdapat mimpi yang tertunda, keluarga yang berharap, dan potensi yang belum mendapat ruang untuk berkembang.
Jika Indonesia ingin menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, maka menciptakan pasar kerja yang lebih adil, setara, dan inklusif bagi perempuan bukan lagi sebuah pilihan. Itu adalah kebutuhan mendesak yang akan menentukan arah pembangunan bangsa pada masa depan. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com