GAMPANG STRESS : Membuat perempuan autoimun

Gampang Stress, Perempuan Rentan Penyakit Autoimun, Begini Pencegahannya

Posted on 2026-07-22 06:51:01 dibaca 80 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com — Di balik meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit kronis, ada satu ancaman kesehatan yang diam-diam terus bertambah, terutama pada perempuan usia produktif. Penyakit autoimun—gangguan ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri—kini menjadi perhatian serius para ahli karena sebagian besar penderitanya adalah perempuan, termasuk mereka yang sedang merencanakan kehamilan atau berada pada masa reproduksi.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan medis, melainkan juga tantangan kesehatan masyarakat. Perubahan hormonal, tekanan psikologis, faktor lingkungan, hingga gaya hidup modern diyakini berperan dalam meningkatnya jumlah kasus dari tahun ke tahun.

Pakar Reumatologi, Penyakit Dalam, sekaligus peneliti herbal dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menjelaskan bahwa autoimun terjadi ketika sistem imun kehilangan kemampuannya membedakan antara sel tubuh sendiri dengan benda asing.

"Pada kondisi normal, sistem imun bertugas melindungi tubuh dari bakteri, virus, parasit, maupun zat berbahaya lainnya. Namun pada penderita autoimun, sistem pertahanan tersebut justru menyerang organ tubuh sendiri sehingga memicu peradangan kronis," ujarnya, Selasa (21/7).

Akibat kesalahan pengenalan tersebut, hampir seluruh organ tubuh berpotensi menjadi sasaran, mulai dari kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hati, hingga sistem saraf. Dampaknya pun sangat beragam, bergantung pada organ yang diserang.

Menurut Nyoman, jika sekitar dua persen populasi dewasa Indonesia mengalami penyakit autoimun, maka jumlah penderitanya diperkirakan telah mencapai sekitar empat juta orang, angka yang menunjukkan bahwa penyakit ini bukan lagi kasus langka.

Mengapa Perempuan Lebih Rentan?

Salah satu karakteristik paling mencolok dari penyakit autoimun adalah dominasi kasus pada perempuan. Sekitar 80 persen penderita merupakan perempuan, sementara laki-laki hanya sekitar 20 persen.

Perbedaan ini erat kaitannya dengan pengaruh hormon estrogen terhadap sistem kekebalan tubuh. Estrogen diketahui meningkatkan aktivitas imun, sehingga di satu sisi memberikan perlindungan lebih baik terhadap infeksi, tetapi di sisi lain juga meningkatkan risiko munculnya respons imun yang berlebihan.

Kondisi tersebut menjadikan perempuan usia reproduksi sebagai kelompok paling rentan. Risiko menjadi semakin besar ketika perempuan sedang merencanakan kehamilan maupun selama masa kehamilan, sebab perubahan hormonal yang terjadi dapat memicu kekambuhan penyakit atau memperberat kondisi yang sudah ada.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum program kehamilan menjadi langkah penting bagi perempuan yang memiliki riwayat autoimun atau faktor risiko tertentu.

Genetik Bukan Satu-satunya Penyebab

Meskipun faktor keturunan memiliki kontribusi terhadap munculnya autoimun, Nyoman menegaskan bahwa genetik bukanlah satu-satunya penjelasan.

Lingkungan memegang peran yang tidak kalah besar. Polusi udara, pola makan yang kurang sehat, infeksi tertentu, hingga tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat menjadi pemicu munculnya penyakit pada individu yang memiliki kerentanan genetik.

Ironisnya, perkembangan teknologi informasi juga membawa tantangan baru.

Banyak pasien mencari informasi mengenai penyakitnya melalui internet. Namun tanpa kemampuan memilah sumber ilmiah yang kredibel, informasi yang berlebihan justru sering menimbulkan kecemasan baru. Padahal kecemasan dan stres merupakan faktor yang dapat memperburuk aktivitas penyakit autoimun.

Stres: Faktor Risiko yang Sering Diremehkan

Di antara berbagai faktor pencetus, stres disebut sebagai salah satu pemicu paling dominan.

Menurut Nyoman, tekanan psikologis tidak hanya dialami pekerja profesional, tetapi juga mahasiswa yang menghadapi tuntutan akademik.

"Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain. Sebelumnya mereka sehat, tetapi setelah mengalami tekanan akademik dan berbagai beban kehidupan, penyakit autoimunnya mulai muncul," katanya.

Temuan tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kesehatan mental dan sistem imun. Sejumlah penelitian dalam bidang psikoneuroimunologi memang menunjukkan bahwa stres kronis mampu mengganggu keseimbangan respons imun sehingga meningkatkan risiko munculnya penyakit inflamasi, termasuk autoimun.

Dari Lupus hingga Diabetes Tipe 1

Secara medis, penyakit autoimun terbagi menjadi dua kelompok besar.

Kelompok pertama adalah autoimun organ spesifik, yaitu penyakit yang hanya menyerang satu organ tertentu. Contohnya adalah Hashimoto thyroiditis yang menyerang kelenjar tiroid sehingga menyebabkan gangguan metabolisme, peningkatan berat badan, dan kelelahan kronis. Contoh lain adalah diabetes melitus tipe 1, ketika sistem imun menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas.

Kelompok kedua adalah autoimun sistemik, yaitu penyakit yang menyerang banyak organ sekaligus. Contoh paling dikenal adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus yang dapat merusak kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf. Selain lupus, penyakit seperti rheumatoid arthritis, scleroderma, dan berbagai penyakit rematik autoimun lainnya juga termasuk dalam kelompok ini.

Tiga Pemicu yang Perlu Diwaspadai

Menurut Nyoman, terdapat tiga faktor yang paling sering memicu kekambuhan penyakit autoimun.

Pertama adalah kelelahan. Meskipun kondisi pasien telah membaik, mereka tetap harus mengatur aktivitas dan menjaga waktu istirahat agar sistem imun tidak kembali teraktivasi secara berlebihan.

Kedua adalah stres psikologis, yang meskipun sulit dihindari, perlu dikelola melalui pendekatan yang sehat agar tidak memperparah penyakit.

Ketiga adalah paparan sinar matahari berlebihan, terutama pada penderita lupus yang sangat sensitif terhadap radiasi ultraviolet. Penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, atau membatasi aktivitas luar ruangan pada jam-jam tertentu menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan.

Tidak Ada Makanan yang Berlaku untuk Semua Orang

Berbeda dengan berbagai klaim yang beredar di media sosial, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang benar-benar kuat bahwa satu jenis makanan tertentu dapat memicu autoimun pada semua penderita.

Setiap individu memiliki respons yang berbeda.

Karena itu, Nyoman menyarankan pasien mengenali tubuhnya sendiri dengan mencatat makanan yang dikonsumsi dan mengamati apakah setelah itu muncul kekambuhan gejala.

Pendekatan personal tersebut dinilai jauh lebih efektif dibanding mengikuti berbagai pantangan makanan tanpa dasar ilmiah.

Tantangan Pengobatan: Menekan atau Memulihkan Sistem Imun?

Hingga kini terapi utama autoimun masih menggunakan obat-obatan imunosupresan yang bekerja menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh.

Meski efektif mengendalikan penyakit, obat-obatan tersebut juga memiliki konsekuensi karena sistem imun yang melemah membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Menurut Nyoman, masa depan terapi autoimun seharusnya tidak hanya berfokus pada penekanan sistem imun, tetapi pada pemulihan fungsi imun agar kembali mampu membedakan jaringan tubuh sendiri dari ancaman asing.

Gagasan tersebut mendorongnya mengembangkan penelitian mengenai obat herbal berbasis bukti ilmiah sebagai terapi pendamping yang diharapkan mampu mengembalikan keseimbangan sistem imun dengan efek samping yang lebih minimal.

Menjaga Keseimbangan Hidup sebagai "Terapi" Pertama

Pada akhirnya, Nyoman menilai bahwa pengobatan autoimun tidak cukup hanya mengandalkan obat.

Cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari memiliki pengaruh yang sama besarnya terhadap perjalanan penyakit.

Menikmati pekerjaan, menjaga kualitas tidur, menghindari kelelahan berlebihan, mengelola stres, tidak merokok, menghindari alkohol, serta menjaga lingkungan tetap sehat merupakan bagian penting dari upaya mengendalikan penyakit.

Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga atau kerentanan genetik, langkah terbaik bukanlah hidup dalam ketakutan, melainkan mengurangi faktor-faktor pencetus sedini mungkin.

Sebab dalam penyakit autoimun, genetik mungkin memuat "peluru", tetapi lingkungan dan gaya hidup sering kali menjadi "pelatuk" yang menentukan apakah penyakit itu akan muncul atau tetap terdiam. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com