Ustadz Muhammad Lilo
MUARA BULIAN, bungopos.com - Di tengah riuhnya dunia yang kerap mengukur keberhasilan dari seberapa lantang seseorang berbicara, Ustadz Muhammad Lilo justru memilih jalan yang berbeda. Ia tidak banyak berkomentar, tidak gemar mencari sorotan, dan jarang tampil sebagai pusat perhatian. Namun, dari kesunyian itulah lahir kerja-kerja besar yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Pria paruh baya ini membuktikan tahun 2026 menjadi saksi dedikasinya. Ustadz Muhammad Lilo layak meraih predikat The Best ZIS Fundraiser BAZNAS Kabupaten Batang Hari periode Januari–Juni 2026 setelah menghimpun dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebesar Rp 43.461.500, atau rata-rata Rp7.243.500 setiap bulan. Sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan angka, tetapi juga kepercayaan masyarakat yang berhasil ia bangun melalui keteladanan.
Sehari-hari, ia mengabdi sebagai pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Pemayung. Di luar tugas kedinasannya, ia memikul amanah sebagai salah satu tenaga dakwah BAZNAS Kabupaten Batang Hari yang bertugas di Kecamatan Pemayung. Waktunya dihabiskan untuk membina majelis taklim, menghidupkan kegiatan masjid, sekaligus mengajak masyarakat dan perangkat desa memahami bahwa zakat bukan sekadar kewajiban, melainkan kekuatan sosial yang mampu mengangkat harkat sesama.
Mereka yang mengenalnya sepakat menggambarkannya sebagai pribadi yang tenang. Perawakannya tinggi dengan sedikit jenggot di dagunya. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Di grup percakapan, namanya hampir tak pernah muncul dalam deretan komentar. Ketika suatu hari ditanya mengapa begitu jarang menanggapi diskusi, ia hanya tersenyum dan menjawab singkat,
"Tapi saya tetap memantau percakapan di grup."
Kalimat sederhana itu seolah mencerminkan seluruh karakternya. Tidak harus terlihat untuk tetap bekerja. Tidak harus banyak bicara untuk menghasilkan karya.
Di balik sikap pendiamnya, tersimpan semangat yang luar biasa. Ia justru menjadi salah satu tenaga dakwah yang paling berani meminta target penghimpunan dana kepada pimpinan. Permintaan itu sempat membuat Wakil Ketua I BAZNAS Kabupaten Batang Hari, Mohd Haramen, ragu. Kekhawatiran muncul karena setiap tenaga dakwah juga memiliki pekerjaan utama masing-masing. Jangan sampai target yang terlalu tinggi justru menjadi beban.
Namun, Ustadz Muhammad Lilo tidak meminta keringanan. Ia meminta kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Dan ia menepati janjinya.
Capaian penghimpunan yang diraihnya menjadi bukti bahwa target bukanlah tekanan bagi mereka yang memiliki komitmen, melainkan arah bagi mereka yang siap bekerja keras. Ia membuktikan bahwa konsistensi, disiplin, dan keikhlasan mampu melahirkan hasil yang melampaui keraguan.
Kisah Ustadz Muhammad Lilo mengingatkan kita pada sebuah pelajaran yang sering terlupakan: perubahan besar tidak selalu dimulai dari pidato yang panjang atau sorotan kamera. Terkadang, perubahan justru lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah, dari tangan yang bekerja tanpa banyak bicara, dan dari hati yang memilih melayani daripada dipuji.
Di Kecamatan Pemayung, ia mungkin hanya dikenal sebagai seorang pegawai KUA dan dai yang sederhana. Namun bagi BAZNAS Kabupaten Batang Hari dan masyarakat yang merasakan manfaat zakat, Ustadz Muhammad Lilo adalah bukti bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu berbicara keras. Ia hadir melalui keteladanan.
Sebab pada akhirnya, kerja yang dilakukan dengan hati akan selalu menemukan jalannya untuk berbicara kepada dunia. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com