ILUSTRASI : Ibu-ibu sedang hamil

Lima Tahun Menuju SDGs 2030, Indonesia Masih Hadapi Darurat Kematian Ibu

Posted on 2026-06-15 23:16:34 dibaca 192 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com – Di balik setiap angka kematian ibu, tersimpan kisah kehilangan yang mendalam bagi keluarga, anak-anak, dan masa depan sebuah generasi. Meski Indonesia terus menunjukkan kemajuan dalam sektor kesehatan, tantangan besar masih menghadang dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang hingga kini masih berada di atas target global.

Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat AKI Indonesia mencapai 144 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun masih terpaut cukup jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang menetapkan angka maksimal 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, M.Kes., Sp.O.G., Subsp.Obginsos, menilai capaian tersebut patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri.

"Angka ini menunjukkan adanya kemajuan, tetapi target SDGs masih cukup jauh. Artinya, lima tahun ke depan menjadi periode yang sangat menentukan untuk menyelamatkan lebih banyak ibu Indonesia," ujarnya, Senin (15/6).

Menurut Phyowai, persoalan kematian ibu tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah tenaga kesehatan. Dibutuhkan sistem kesehatan yang kuat, tangguh, dan mampu merespons berbagai kondisi darurat secara cepat dan tepat.

Ia menjelaskan bahwa tenaga medis yang kompeten harus didukung oleh fasilitas kesehatan yang memadai, sistem rujukan yang efektif, serta kemampuan deteksi dini terhadap berbagai risiko kehamilan.

"Kita membutuhkan sistem kesehatan yang resilien. SDM yang baik tidak akan optimal tanpa sarana-prasarana yang memadai dan sistem rujukan yang berjalan efektif," jelasnya.

Pemerintah, lanjutnya, telah berupaya memperbaiki distribusi tenaga kesehatan hingga ke daerah-daerah yang membutuhkan. Namun, tantangan masih tetap ada, terutama terkait pemerataan layanan dan keberlanjutan penugasan tenaga medis di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu persoalan utama yang masih menjadi penyebab tingginya AKI adalah fenomena three delays atau tiga keterlambatan yang kerap terjadi dalam penanganan kegawatdaruratan maternal.

Keterlambatan pertama terjadi saat keluarga atau tenaga kesehatan gagal mengenali tanda bahaya kehamilan. Keterlambatan kedua berkaitan dengan proses transportasi dan rujukan menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Sementara keterlambatan ketiga terjadi ketika pasien sudah tiba di fasilitas kesehatan, tetapi belum mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Menurut Phyowai, hambatan tersebut dapat berbeda-beda di setiap daerah. Di wilayah terpencil, kendala geografis menjadi tantangan utama. Sementara di kota besar, kemacetan lalu lintas dan kompleksitas sistem rujukan justru dapat memperlambat penanganan pasien.

"Padahal dalam kasus kegawatdaruratan obstetri terdapat masa emas atau golden period yang sangat menentukan keselamatan ibu dan bayi," katanya.

Selain penguatan layanan kesehatan, Phyowai menegaskan pentingnya perencanaan kehamilan yang matang. Ia menjelaskan bahwa penggunaan kontrasepsi berperan penting dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan sehingga dapat menekan berbagai risiko kesehatan ibu.

Saat ini, penyebab utama kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, dan infeksi. Namun, para ahli mulai mengamati munculnya tren baru berupa meningkatnya kasus kematian akibat penyakit penyerta yang sebelumnya tidak terdeteksi.

"Kasus penyakit jantung bawaan, misalnya, sering kali baru diketahui ketika seorang perempuan sedang hamil. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi yang serius," ungkapnya.

Karena itu, Phyowai mendorong penerapan pre-conception care atau pelayanan kesehatan sebelum kehamilan. Melalui pendekatan ini, perempuan dapat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini sehingga berbagai faktor risiko dapat diidentifikasi dan ditangani sebelum kehamilan terjadi.

"Perempuan idealnya memeriksakan kondisi kesehatannya sebelum merencanakan kehamilan. Dengan begitu, risiko-risiko yang mungkin muncul dapat dicegah sejak awal," tuturnya.

Di tengah upaya mencapai target SDGs 2030, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi, penguatan sistem rujukan, pemerataan layanan kesehatan, serta pelayanan sebelum kehamilan menjadi strategi yang tidak dapat ditawar lagi.

Sebab pada akhirnya, menurunkan angka kematian ibu bukan sekadar memenuhi target statistik. Lebih dari itu, ini adalah upaya menyelamatkan kehidupan, menjaga keutuhan keluarga, dan memastikan setiap ibu memiliki kesempatan yang sama untuk menyambut kelahiran buah hatinya dengan selamat dan bahagia. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com