TERTUA : Masjid di dusun Empelu, kabupaten Bungo

Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Jantung Sumatra: Pesona Abadi Masjid Al-Falah Empelu, Bungo

Posted on 2026-05-12 15:22:09 dibaca 101 kali

MUARA BUNGO, bungopos.com - Di tengah hiruk-pikuk perjalanan lintas Sumatra jalur tengah, ada satu tempat yang seakan mengajak setiap musafir untuk berhenti sejenak, menenangkan hati, dan menatap kembali jejak panjang peradaban Islam di bumi Melayu. Tempat itu adalah Masjid Besar Al-Falah Empelu.

Berdiri megah di tepian Sungai Batang Tebo, masjid tua yang telah berdiri sejak tahun 1812 Masehi ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah, pusat peradaban, sekaligus simbol semangat gotong royong masyarakat Dusun Empelu yang terus hidup hingga hari ini.

Berjarak sekitar 31,6 kilometer dari pusat Kota Muara Bungo, masjid ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Letaknya yang tidak jauh dari lintas Sumatra membuat Masjid Al-Falah menjadi destinasi wisata religi yang layak disinggahi para pelintas jalan. Namun jauh sebelum jalan raya terbentang, akses menuju masjid ini hanya dapat dilakukan melalui aliran Sungai Batang Tebo menggunakan perahu.

Begitu tiba di halaman masjid, suasana teduh langsung terasa. Bangunan tua yang memadukan arsitektur Jawa dan Minangkabau itu berdiri anggun dengan aura klasik yang sulit ditemukan di tempat lain. Setiap sudutnya menyimpan cerita, setiap tiangnya memendam sejarah panjang tentang dakwah, adat, dan kebersamaan masyarakat tempo dulu.

Tokoh masyarakat Dusun Empelu, Datuk Rifa'i, menuturkan bahwa Masjid Al-Falah menjadi bukti nyata bahwa Islam telah berkembang pesat di Provinsi Jambi sejak ratusan tahun silam.

“Dulu orang sering mendatangi masjid ini untuk berdoa atau melihat arsitektur masjid. Mereka datang dari dalam maupun luar negeri. Ada kepercayaan, berdoa di sini mudah dikabulkan,” ujarnya.

Menurut kisah yang diwariskan turun-temurun, masjid ini awalnya hanyalah sebuah surau sederhana bernama Surau Al-Falah yang dibangun atas titah Pangeran Anom dan dipimpin oleh Rio Agung Niat Tuanku Kitab. Bersama masyarakat, mereka bergotong royong mengambil kayu dari hutan demi mendirikan rumah ibadah yang menjadi pusat kehidupan masyarakat kala itu.

Di masa awal berdirinya, bangunan surau berbentuk rumah panggung beratap rumbia dengan dinding kayu dan lantai bilah menyerupai rumah adat Bungo. Namun seiring perjalanan waktu, Surau Al-Falah direnovasi menjadi bangunan permanen dan berubah nama menjadi Masjid Al-Falah.

Keunikan masjid ini bukan hanya terletak pada usianya yang lebih dari dua abad, tetapi juga pada filosofi yang tersembunyi dalam setiap detail bangunannya. Lima anak tangga utama melambangkan lima Rukun Islam. Tangga depan berjumlah 17 buah yang menggambarkan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari semalam.

Kubahnnya berjumlah lima, terdiri dari satu kubah utama, dua kubah menengah, dan dua kubah kecil, yang kembali merepresentasikan lima Rukun Islam. Sementara itu, 13 jendela masjid melambangkan 13 rukun shalat.

Semua detail itu menunjukkan bahwa para pendiri masjid tidak hanya membangun tempat ibadah, tetapi juga meletakkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam arsitektur bangunan.

Selama lebih dari dua abad, Masjid Al-Falah telah berkali-kali direnovasi tanpa menghilangkan ruh sejarahnya. Mulai dari renovasi oleh Abu Kasim dari Pulau Jawa pada tahun 1827, hingga sentuhan seni arsitektur Minang oleh Mangali dari Bukittinggi pada 1837.

Hingga kini, sebagian besar renovasi dilakukan atas inisiatif masyarakat setempat. Semangat gotong royong tetap menjadi napas utama dalam menjaga warisan sejarah tersebut agar tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman.

Bagi masyarakat Dusun Empelu, masjid bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah pusat kehidupan. Di sinilah masyarakat melaksanakan shalat berjamaah, peringatan hari besar Islam, pelepasan jamaah haji, musyawarah adat, hingga tradisi budaya turun-temurun seperti Balayei, mandi bekasai, dan Bubur Tigo Perkaro.

Pemuda setempat, Randi Saputra, menyebut Masjid Al-Falah sebagai simbol persatuan masyarakat Empelu.

“Bagi masyarakat sini, masjid adalah kebanggaan, simbol persatuan dan semangat gotong royong. Sebab, masjid adalah milik bersama,” katanya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Masjid Al-Falah tetap berdiri tenang, menjaga ingatan tentang bagaimana Islam tumbuh bersama adat, budaya, dan semangat kebersamaan masyarakat Melayu Jambi.

Bagi siapa saja yang melintas di jalur tengah Sumatra, singgah di Masjid Al-Falah bukan hanya perjalanan wisata religi. Ini adalah perjalanan menyusuri jejak sejarah, menikmati keindahan arsitektur warisan leluhur, sekaligus belajar tentang arti persatuan dan gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan ketika azan berkumandang di tepian Sungai Batang Tebo, siapa pun akan merasakan bahwa masjid tua ini bukan sekadar bangunan bersejarah—melainkan rumah hati yang menjaga ruh peradaban Islam di tanah Sumatra. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: NU Online
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com