ILUSTRASI : Makanan yang disiapkan oleh MBG

33 Ribu Pelajar Keracunan MBG, Target 3000 Porsi per SPPG Dinilai Terlalu Tinggi

Posted on 2026-04-27 11:35:59 dibaca 13 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejatinya lahir dari semangat besar: memastikan setiap anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan siap menyongsong masa depan. Namun di balik niat mulia tersebut, perjalanan implementasinya menghadapi ujian yang tidak ringan—terutama dalam hal keamanan pangan yang kini menjadi sorotan serius.

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat, sejak awal 2025 hingga April 2026, sedikitnya 33.626 pelajar sempat mengalami keracunan yang diduga berasal dari program MBG. Angka ini tentu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari tantangan nyata yang perlu segera dijawab dengan langkah yang lebih matang dan terukur.

Guru Besar Teknologi Pangan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo, menilai bahwa kasus keracunan dalam program ini hampir terjadi setiap bulan sepanjang 2025. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa kesiapan pelaksanaan di lapangan masih perlu diperkuat. “Hanya mungkin satu dua bulan saja yang tidak ada laporan. Selebihnya hampir setiap bulan ada,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan ini tidak berdiri sendiri di satu wilayah, melainkan tersebar secara acak di berbagai daerah. Salah satu titik krusial adalah kesiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dituntut memproduksi hingga 3.000 porsi per hari—angka yang dinilai melampaui kapasitas wajar bagi unit yang masih baru berkembang.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa pendekatan yang terlalu cepat dan serentak justru menjadi akar persoalan. Dengan target menjangkau puluhan juta siswa, kebutuhan hampir 30 ribu SPPG menjadi tantangan logistik yang sangat besar. Tanpa tahapan yang terukur, risiko kesalahan dalam proses produksi pun meningkat.

Di sisi teknis, risiko kontaminasi makanan menjadi perhatian utama. Proses memasak dalam jumlah besar, seperti ratusan potong ayam dalam satu waktu, tidak selalu menjamin kematangan merata. Ditambah jeda waktu antara memasak dan konsumsi yang bisa mencapai beberapa jam, potensi berkembangnya bakteri semakin besar jika tidak ditangani dengan prosedur yang ketat.

Namun di tengah berbagai tantangan ini, tersimpan pelajaran penting yang justru dapat memperkuat masa depan program MBG. Pendekatan bertahap—misalnya dimulai dari 500 porsi per hari—dapat menjadi solusi realistis untuk menguji kesiapan, mengevaluasi sistem, dan memperbaiki standar sebelum skala diperbesar.

Selain itu, fokus pada kelompok paling rentan seperti anak-anak dengan risiko stunting dinilai lebih efektif. Dengan cakupan yang lebih terarah, kualitas dan keamanan pangan dapat lebih terjaga, sekaligus memastikan manfaat program benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.

Program MBG bukanlah sekadar distribusi makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi bangsa. Tantangan yang muncul hari ini bukan untuk menghentikan langkah, melainkan menjadi pijakan untuk berbenah. Dengan kolaborasi, evaluasi berkelanjutan, dan komitmen pada standar keamanan, MBG tetap memiliki harapan besar untuk menjadi program unggulan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan dan memuliakan masa depan anak-anak Indonesia.

     

Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com