ILUSTRASI : Pengaturan tata kelola keuangan

Pasca Lebaran Mengidap Penyakit "Kantong Kering", Ini Tips Mengatur Keuangannya

Posted on 2026-04-07 19:10:54 dibaca 111 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Menjelang lebaran, masyarakat umumnya kerap menunjukkan pola konsumtif yang tergolong masih tinggi. Alhasil, terdapat lonjakan pengeluaran keuangan karena adanya kebiasaan rutin di hari raya seperti menyiapkan biaya kebutuhan mudik hingga pemberian hadiah parsel ke sanak keluarga. Bahkan pola pengeluaran yang cukup besar berlanjut hingga pascalebaran. Ketidakseimbangan tersebut patut diwaspadai.  Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk lebih memperhatikan pengeluaran meski euforia perayaan momen lebaran masih berlangsung.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Dr. Eddy Junarsin, mengatakan pola konsumsi yang cenderung tinggi karena dipengaruhi euforia momen lebaran. Menurutnya, pola konsumsi pasca-Lebaran secara psikologis sangat mungkin terjadi karena individu cenderung melanjutkan kebiasaan belanja dalam suasana festive atau kegembiraan.

“Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal,” ujarnya, Selasa (7/4).

Untuk mencegah pemborosan, setiap individu perlu memiliki semacam alarm “awaken” atau kesadaran. Hal ini berkaitan untuk menandai bahwa masa perayaan telah berakhir. Berangkat dari fenomena tersebut, pengelolaan keuangan perlu kembali dilakukan secara tertib dan strategis.

Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai riset menunjukkan rasio ideal tabungan atau investasi berada pada kisaran 10–20 persen dari pendapatan bersih (take-home pay). Sementara itu, rasio cicilan utang (debt service ratio), kecuali cicilan KPR, sebaiknya tidak melebihi 35 persen dari pendapatan.

“Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eddy mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mulai memahami dan mempraktikkan investasi sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui kelas-kelas di bidang manajemen keuangan dan teori portofolio, serta dengan memanfaatkan platform investasi yang tersedia. Dalam praktiknya, analisis investasi dapat dilakukan melalui pendekatan analisis fundamental maupun teknikal.

Selain itu, ia juga menyebutkan pentingnya peran asuransi sebagai instrumen perlindungan finansial. Menurutnya, asuransi kesehatan, kendaraan, maupun jenis lainnya berfungsi sebagai mekanisme manajemen risiko melalui risk sharing. Oleh karenanya, ketika terjadi peristiwa tidak terduga, beban finansial dapat diminimalkan karena sebagian besar risiko ditanggung oleh pihak asuransi.

“Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen. Jadi, ini merupakan suatu praktik yang lumrah dan penting,” ungkapnya.

Eddy mengingatkan terkait kondisi global yang penuh ketidakpastian atau sering disebut sebagai VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous). Masyarakat perlu lebih bijak dan strategis dalam mengelola keuangan, baik secara pribadi maupun dalam usaha. Ia menekankan pentingnya menjaga agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan, kecuali untuk kebutuhan investasi.

Selain itu, ia menyarankan agar pola investasi saat ini tidak mesti berorientasi terlalu jangka panjang karena perubahan iklim dan instrumen investasi yang sangat cepat. Eddy justru menyarankan pada fokus kebutuhan yang bersifat vital dan taktis.

“Pupuk persatuan di dalam komunitas, kurangi perdebatan atau konflik yang tidak konstruktif,” pesannya. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com