ILUSTRASI : Pupuk organik yang bisa mengantisipasi kenaikan harga pupuk

Perang Iran Picu Krisis Pupuk, Ini Skema Penyelamatan Produksi Pertanian

Posted on 2026-03-30 13:34:06 dibaca 210 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Di ladang-ladang padi yang hijau, di kebun jagung yang menguning, hingga di petak sayur milik petani kecil di pelosok desa, pupuk adalah napas kehidupan bagi tanaman. Namun jauh dari sawah yang tenang itu, dentuman konflik di Timur Tengah kini perlahan terasa gaungnya hingga ke sektor pangan dunia.

Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut-sebut memicu gangguan pada pasokan pupuk berbasis nitrogen, salah satu komponen vital dalam produksi pupuk kimia. Negara-negara di kawasan Teluk selama ini dikenal sebagai produsen penting pupuk nitrogen, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut dapat menimbulkan efek domino terhadap ketahanan pangan global.

Di tengah kekhawatiran itu, suara tenang datang dari dunia akademik. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Subejo, melihat situasi ini bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga peluang bagi Indonesia untuk menata ulang ketergantungan pada pupuk impor.

Menurutnya, perang memang dapat memicu kelangkaan bahan baku pupuk kimia yang sebagian masih harus diimpor. Jika konflik berlangsung lama dan jalur distribusi bahan baku terganggu, kapal-kapal pengangkut bahan pupuk bisa saja tidak sampai ke Indonesia.

“Kalau situasi ini berlangsung panjang dan bahan baku tidak masuk, tentu akan berisiko,” ujarnya.

Namun di balik kekhawatiran itu, Subejo melihat ruang harapan. Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya yang melimpah untuk memproduksi pupuk organik dan pupuk hayati secara mandiri.

Di banyak desa, kotoran ternak, limbah pertanian, dan sisa bahan organik selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal dari bahan-bahan sederhana itu dapat lahir pupuk kompos yang mampu memperbaiki kesuburan tanah.

“Di satu sisi memang ada risiko kekurangan pupuk kimia. Tetapi di sisi lain ini kesempatan bagi kita untuk memaksimalkan pupuk organik dari sumber daya lokal,” kata Subejo.

Bagi para petani, pupuk organik bukanlah hal baru. Sejak lama, sebelum revolusi pupuk kimia modern, tanah-tanah pertanian Nusantara diperkaya dengan kompos, pupuk kandang, dan berbagai ramuan alami yang diwariskan turun-temurun. Kini, di tengah ketidakpastian global, kearifan lama itu kembali menemukan relevansinya.

Meski demikian, Subejo mengingatkan bahwa pupuk organik tidak bisa sepenuhnya menggantikan pupuk non-organik. Tanaman tetap membutuhkan keseimbangan nutrisi. Jika stok pupuk kimia menurun drastis—misalnya hingga 50 persen—risiko terhadap produktivitas pertanian akan semakin besar.

Karena itu, kewaspadaan harus dimulai dari sekarang. Pemerintah diperkirakan masih memiliki stok pupuk untuk musim tanam saat ini. Namun ancaman bisa muncul pada musim tanam berikutnya, sekitar Juni atau Juli, jika distribusi bahan baku pupuk kimia terganggu.

Sebagai penutup Subejo menerangkan langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi kondisi. Menurutnya, pemerintah harus mengedukasi masyarakat untuk tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan harus mulai bergeser ke pupuk organik. Selain itu, strategi lainnya adalah memberikan bantuan ke desa-desa mesin pengolah pupuk organik. Langkah tersebut dapat menjadi momentum untuk mengajarkan pentingnya pupuk organik dengan mensosialisasikan dan disiapkan infrastrukturnya sembari melihat perkembangannya.

“Jika hal tidak disiapkan, nanti ketika misalnya betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps. Tapi kalau strategi tersebut dilakukan, melalui penyuluhan, melalui pengadaan mesin, termasuk mungkin pelatihan, saya kira menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mulai disiapkan,” pungkasnya. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com