Mohd Haramen

PUASA KE XXX : Tangisan Perpisahan

Posted on 2026-03-20 16:50:43 dibaca 258 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

DALAM karya agung Ibnu Rajab al-Hanbali, tergambar sebuah suasana yang mungkin terasa asing bagi sebagian kita hari ini: Idul Fitri bukan semata puncak kegembiraan, tetapi juga momen kegelisahan batin.

Dikisahkan, suatu hari di pagi Idul Fitri, Umar bin Abdul Aziz berdiri di hadapan rakyatnya. Dalam khutbahnya, ia tidak hanya mengucapkan selamat, tetapi justru mengajak merenung:

“Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa selama tiga puluh hari, dan menunaikan shalat malam selama tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan itu diterima.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang. Karena sesungguhnya, inti dari Ramadan bukanlah sekadar menunaikan ibadah, melainkan satu pertanyaan besar: apakah semua itu diterima?

Di tengah suasana hari raya, tampak seorang lelaki yang justru bersedih. Ketika ditanya, ia menjawab dengan penuh kesadaran, “Aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak. Itulah yang membuatku sedih.”

Di sinilah letak kedalaman iman generasi terdahulu. Mereka tidak terbuai oleh banyaknya amal, tetapi justru diliputi kegelisahan tentang kualitas amal. Mereka tidak bangga dengan ibadahnya, tetapi takut jika semua itu sia-sia.

Bahkan Ali bin Abi Thalib diriwayatkan berseru dengan penuh kesedihan di malam terakhir Ramadan: siapakah yang amalnya diterima agar bisa diberi selamat, dan siapa yang tertolak agar bisa dihibur. Sebuah seruan yang menunjukkan betapa Ramadan bukan sekadar ritual, tetapi pertaruhan spiritual.

Dalam pandangan para salafus shalih, perpisahan dengan Ramadan adalah luka. Mereka menangis bukan karena kehilangan suasana, tetapi karena kehilangan kesempatan. Mereka sadar, tidak ada jaminan umur untuk bertemu kembali dengan bulan penuh ampunan ini.

Sebagaimana ditegaskan kembali oleh Ibnu Rajab al-Hanbali: “Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak meneteskan air mata ketika berpisah dengan Ramadan, sedangkan ia tidak mengetahui apakah masih ada sisa umur untuk kembali menjumpainya?”

Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa di akhir Ramadan, langit, bumi, dan para malaikat menangis. Bukan tanpa sebab, melainkan karena umat Nabi Muhammad akan berpisah dengan bulan di mana doa-doa dikabulkan dan sedekah dilipatgandakan.

Kini, kita berada di penghujung itu. Hari-hari penuh rahmat dan ampunan perlahan meninggalkan kita. Waktu yang tersisa mungkin hanya hitungan jam, bahkan detik. Namun di situlah nilai sebenarnya: bukan pada panjangnya waktu, tetapi pada kesungguhan kita memanfaatkannya.

Mari kita isi sisa Ramadan ini dengan kesungguhan yang lebih dalam dari sebelumnya. Perbaiki shalat kita, basahi lisan dengan istighfar, dekatkan hati dengan Al-Qur’an, dan lembutkan jiwa dengan sedekah. Jangan biarkan Ramadan pergi tanpa meninggalkan jejak kebaikan dalam diri kita.

Karena sejatinya, yang paling penting bukanlah siapa yang merayakan Idul Fitri, tetapi siapa yang kembali kepada fitrah dengan hati yang diterima.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هٰذَا آخِرَ عَهْدِنَا بِرَمَضَانَ

“Ya Allah, terimalah puasa kami, qiyam kami, dan amal-amal kami. Ya Allah, jangan jadikan Ramadan ini sebagai Ramadan terakhir bagi kami.”

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari, bidang Penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

     
Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com