Mohd Haramen
Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy
Idul Fitri bukan sekadar hari raya. Ia adalah jejak sejarah, sekaligus cermin jiwa. Ia pertama kali dirayakan pada tahun ke-2 Hijriyah, selepas kemenangan besar dalam Perang Badar. Namun yang dirayakan saat itu bukanlah euforia kemenangan, melainkan ketundukan yang dalam kepada Allah—sebuah perayaan yang sederhana, penuh syukur, dan berakar pada ketakwaan setelah sebulan ditempa oleh Ramadan.
Bayangkan suasana pagi itu. Tidak ada kemewahan, tidak ada gemerlap berlebihan. Rasulullah mencontohkan hal-hal kecil yang sarat makna: memakan kurma dalam jumlah ganjil sebelum salat, berjalan kaki menuju tempat ibadah, memilih jalan yang berbeda saat pulang, serta mempererat silaturahmi. Semua itu bukan sekadar tradisi, tetapi simbol bahwa Idul Fitri adalah perjalanan kembali—kembali kepada fitrah, kepada kesederhanaan, dan kepada kebersamaan.
Namun, sejak masa awal Islam, perbedaan ternyata sudah menjadi bagian dari perjalanan umat. Dalam kisah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, kita belajar bahwa penentuan awal bulan pun tidak selalu seragam. Ketika hilal terlihat di Syam pada malam Jumat di masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, masyarakat di Madinah justru melihatnya pada malam Sabtu. Jarak yang memisahkan keduanya, perbedaan mathla’, serta metode pengamatan menjadikan hasilnya tidak sama.
Yang menarik bukanlah perbedaannya, melainkan sikap terhadap perbedaan itu. Ketika ditanya mengapa tidak mengikuti hasil rukyat di Syam, Ibnu Abbas menjawab tegas bahwa demikianlah Rasulullah mengajarkan. Artinya, perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan ruang untuk tetap berpegang pada prinsip masing-masing dengan tetap saling menghormati.
Di sinilah Ramadan dan Idul Fitri menemukan makna terdalamnya. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih hati untuk lebih luas menerima realitas. Ia mengajarkan empati kepada yang lemah, kesabaran dalam menghadapi perbedaan, dan toleransi (tasamuh) dalam keberagaman. Orang yang bertakwa tidak mudah marah karena perbedaan, tidak cepat menghakimi karena ketidaksamaan. Justru ia menjadi jembatan, bukan tembok.
Keberagaman adalah sunnatullah—keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Maka Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk merawat persatuan, bukan mempertajam perbedaan. Kita boleh berbeda dalam cara, tetapi tidak dalam tujuan: sama-sama menuju ridha Allah. Kita boleh tidak sejalan dalam metode, tetapi tetap harus seiring dalam ukhuwah.
Pesan para ulama pun jelas: ketika suatu perkara telah menjadi kesepakatan umat (ijma), maka tidak ada ruang untuk keluar darinya. Ini menjadi fondasi agar perbedaan tidak liar tanpa arah, melainkan tetap berada dalam koridor persatuan.
Akhirnya, Idul Fitri mengajarkan kita satu hal yang sering terlupa: kemenangan sejati bukanlah saat kita merasa paling benar, tetapi saat kita mampu menjaga hati tetap bersih di tengah perbedaan. Kemenangan itu hadir ketika kita bisa memaafkan, menghargai, dan merangkul sesama—tanpa memandang latar belakang, tanpa memperbesar jurang perbedaan.
Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang siapa yang lebih dulu merayakan, tetapi tentang siapa yang lebih tulus kembali kepada fitrah—dengan hati yang lapang, jiwa yang damai, dan tangan yang terbuka untuk mempersatukan.
(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infak dan Sedekah)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com