Mohd Haramen

PUASA KE XVI : Samudera Berbagi

Posted on 2026-03-06 23:57:44 dibaca 349 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

Sejarah zakat dalam Islam mengajarkan satu hal penting: ibadah bukan hanya urusan langit, tetapi juga menyentuh bumi. Ketika ayat zakat pertama kali turun di Makkah, sebagaimana termaktub dalam Surah Ar-Rum ayat 39, Allah menegaskan bahwa harta yang diberikan untuk mencari keridaan-Nya akan dilipatgandakan pahalanya. Pesan ini sederhana namun sangat mendalam: kekayaan sejati bukan terletak pada apa yang kita simpan, tetapi pada apa yang kita bagikan.

Namun, Islam tidak berhenti pada ajaran moral semata. Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, nilai-nilai zakat tidak hanya menjadi nasihat spiritual, tetapi diwujudkan dalam sistem sosial yang nyata. Di kota itu, Rasulullah membangun pengelolaan zakat secara terorganisir melalui lembaga Baitul Mal dan para amil zakat. Mereka bertugas mencatat muzakki, menghitung kewajiban zakat, menghimpun, hingga menyalurkan kepada delapan golongan penerima sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 60.

Di sinilah terlihat keindahan ajaran Islam: ibadah spiritual dibangun bersama sistem sosial yang rapi. Zakat bukan sekadar amal pribadi, tetapi menjadi mekanisme distribusi kesejahteraan. Ia menjaga agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang-orang kaya, tetapi juga mengalir kepada mereka yang membutuhkan.

Ketegasan terhadap kewajiban zakat bahkan terlihat setelah wafatnya Rasulullah. Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika sebagian kaum muslim menolak membayar zakat, beliau mengambil sikap tegas. Baginya, zakat adalah bagian dari fondasi Islam yang tidak boleh ditawar. Tanpa zakat, keadilan sosial dalam masyarakat akan runtuh.

Kemudian pada masa Umar bin Khattab, pengelolaan zakat semakin tertata melalui sistem Baitul Mal yang kuat. Zakat menjadi instrumen ekonomi yang nyata dalam menciptakan kesejahteraan umat. Sejarah bahkan mencatat bahwa pada masa-masa tertentu, sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat karena kesejahteraan masyarakat telah meningkat.

Di bulan Ramadhan, pesan zakat terasa semakin kuat. Puasa melatih kepekaan hati. Saat seseorang menahan lapar dan dahaga, ia belajar memahami perasaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Dari situlah empati tumbuh. Dan empati itu menemukan wujudnya dalam zakat dan sedekah.

Puasa adalah ibadah yang menyucikan jiwa, sedangkan zakat menyucikan harta. Keduanya saling melengkapi. Puasa mengajarkan kita untuk merasakan, sedangkan zakat mengajarkan kita untuk berbagi.

Tidak mengherankan jika banyak umat Islam memilih membayar zakat maal di bulan Ramadhan. Bukan semata karena pahala yang berlipat, tetapi karena Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat solidaritas sosial. Ketika zakat ditunaikan, senyum kebahagiaan dapat hadir di rumah-rumah kaum fakir menjelang hari raya.

Pada akhirnya, zakat mengingatkan kita bahwa keberkahan harta bukan pada jumlahnya, tetapi pada manfaatnya bagi orang lain. Harta yang ditunaikan zakatnya tidak akan berkurang, justru akan menumbuhkan keberkahan yang meluas.

Ramadhan mengajarkan kita satu pesan penting: ketakwaan sejati tidak hanya diukur dari seberapa lama kita berdoa, tetapi juga dari seberapa besar kita peduli pada sesama.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Batang Hari bidang Penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com