Mohd Haramen

PUASA KE X : Menjauhkan Berhala Materi

Posted on 2026-02-28 14:55:55 dibaca 214 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

Pada tahun 593 Hijriah, di sebuah desa kecil bernama Ghumarah, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak mengguncang dunia tasawuf. Ia diberi nama Ali. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Abu Hasan asy-Syadzili—seorang ulama besar yang ajarannya menembus zaman.

Ia tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Jabbar, menanamkan kecintaan kepada Allah sejak dini. Namun yang menarik, Imam asy-Syadzili bukan sosok sufi yang lusuh dan menjauh dari kehidupan. Tubuhnya kurus, jari-jemarinya panjang, tutur katanya lembut dan fasih. Ia selalu berpakaian indah, harum, dan menunggang kuda terbaik.

Mengapa seorang sufi memilih tampil sebaik itu?

Karena baginya, bumi ini adalah hamparan masjid. Tanah adalah tempat bersuci. Ke mana pun wajah menghadap, di sanalah wajah tertuju kepada Allah. Maka tampil rapi dan indah bukanlah kesombongan, melainkan adab kepada Sang Pemilik bumi. Itu bukan pemuasan hawa nafsu, bukan pula gengsi sosial. Itu adalah syukur.

Seperti kata Imam As-Syibli:
“Syukur adalah melihat Sang Pemberi nikmat, bukan melihat nikmat.”

Asy-Syadzili mengajarkan keseimbangan. Dunia tidak untuk dibenci. Dunia adalah ladang. Yang berbahaya bukan harta—tetapi hati yang diperbudak harta. Muridnya, Ibnu Athaillah as-Sakandari, dalam kitabnya Al-Hikam, bahkan mengingatkan bahwa menjauhi dunia demi terlihat fokus ibadah bisa menjadi riya yang samar.

Hari ini, kita hidup di tengah pembangunan yang sering dimaknai sebatas akumulasi materi. Gedung menjulang, proyek berderet, angka-angka ekonomi dibanggakan. Namun jika pembangunan hanya berhenti pada materi, ia tak akan pernah selesai. Sebab nafsu tidak mengenal titik kenyang.

Islam tidak pernah mengharamkan kekayaan. Islam tidak memusuhi kemajuan. Materi penting untuk menopang kualitas kehidupan. Tetapi ia tidak boleh menindih spiritualitas keimanan. Ia tidak boleh mematikan sensitivitas sosial. Mengingat, ketika materi berubah menjadi berhala, maka disitulah regulasi sering ditabrak, etika ditinggalkan, dan kemanusiaan dipinggirkan.

Imam asy-Syadzili kaya dalam iman, namun elegan dalam penampilan. Ia aktif di dunia, tetapi hatinya tertambat pada akhirat. Ia menikmati dunia, namun tidak diperbudak olehnya. Seperti pesan Nabi SAW: makanlah sebelum lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Ada kendali. Ada kesadaran. Dan ada batas.

Modernisasi ekonomi jangan sampai mematikan saraf kita untuk merasakan “cukup”. Jangan sampai kita kehilangan kemampuan mendefinisikan rasa kenyang. Karena ketika rasa cukup hilang, keserakahan menemukan rumahnya.

Ramadhan datang setiap tahun untuk meruntuhkan berhala-berhala dalam diri. Ia melatih kita menahan lapar, bukan karena tidak mampu makan, tetapi karena kita ingin menguasai diri. Puasa adalah latihan kebebasan dari perbudakan materi. Idul Fitri adalah deklarasi kemenangan jiwa.

Kaya boleh. Sukses boleh. Membangun boleh. Tetapi jangan jadikan materi sebagai sesembahan. Jadikan ia sarana untuk bersyukur, berbagi, dan memuliakan sesama.

Seperti asy-Syadzili mengajarkan: tampil terbaik di bumi ini, karena bumi adalah milik Allah. Miliki dunia di tanganmu, tetapi pastikan akhirat menetap di hatimu.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com