Mohd Haramen

PUASA IX : Ekonomi Sedekah

Posted on 2026-02-27 10:36:51 dibaca 334 kali

DITENGAH terik matahari Madinah dan kehidupan yang serba terbatas, hiduplah seorang sahabat Nabi yang namanya mungkin tak sepopuler yang lain, namun ketulusan hatinya menembus langit. Ia adalah Uqbah bin ‘Amr al-Anshari.

Ia bukan saudagar kaya. Bukan pula seorang bangsawan terpandang. Hidupnya sederhana, bahkan cenderung sempit. Namun ada satu hal yang tak pernah sempit dalam dirinya yakni keinginan untuk berbagi.

Suatu ketika, saat ayat tentang sedekah diturunkan, hatinya bergetar. Seruan langit itu begitu kuat menggugah jiwanya. Ia ingin bersedekah. Ia ingin mengambil bagian dalam amal yang dijanjikan pahala besar di sisi Allah.

Namun kenyataan menghentak : ia tidak memiliki harta.

Alih-alih berdiam diri dan menjadikan kemiskinan sebagai alasan, Uqbah justru mencari jalan. Ia dan beberapa sahabat lain rela bekerja sebagai kuli panggul. Mengangkat beban orang lain, memeras keringat, demi mendapatkan upah kecil yang bisa dipersembahkan di jalan Allah melalui pintu sedekah.

Ironisnya, di tengah ketulusan tersebut, kaum munafik justru mencelanya. Mereka meremehkan sedekah Uqbah yang sedikit itu. Mereka menertawakan usaha Uqbah yang dianggap tak berarti. Bagi mereka, jumlah lebih penting daripada sebuah ketulusan dan keikhlasan.

Namun Allah tidak tinggal diam. Lalu, turunlah firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 79:

Orang-orang yang mencela mukmin yang bersedekah secara sukarela dan mencela mukmin yang bersedekah sekadar dari harta yang mereka hasilkan, Allah akan membalas penghinaan itu, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”

Ayat ini bukan sekadar teguran. Ia adalah pembelaan langit bagi hati-hati yang tulus. Allah sendiri yang membela mereka yang memberi, meski hanya sedikit. Karena sesungguhnya, yang dinilai bukan angka — melainkan cinta dan niat di baliknya.

Kisah ini mengajarkan satu pelajaran yang begitu jernih yakni berbuat baik tidak perlu menunggu kaya. Kebaikan tidak lahir dari tebalnya dompet, tetapi dari lapangnya hati. Banyak orang kaya harta namun miskin empati. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun kaya jiwa.

Dimasa kini, ditengah ideologi kapitalisme yang menggurita, terkadang sifat indvidualistik membuat seseorang bekerjasama, bergaul selalu berorientasi keuntungan. Lalu, motif cinta, empati, kedermawanan, solidaritas, kasih sayang, emosi, persahabatan, dan kesetiakawanan hilang dalam aktivitas sehari-hari. Selagi kaya dan di atas, semua orang mengaku bersahabat, bersaudara dan lain-lain. Begitu jatuh digaris bawah, tak lagi berkuasa, semua orang bahkan lupa. 

Padahal, Ramadhan membawa pesan bahwa manusia harus menghargai orang lain dari sisi kemanusiaannya. Sifat solidaritas dan empati harus selalu bersemayam di hati sanubari. Nafsu syahwat akan harta, tahta dan wanita harus direm sekuat-kuatnya. Karena semua yang kita memiliki hanya titipan. Bahkan roh yang ada dalam jasad kita sendiri juga titipan. Semuanya akan kembali kepada pemilik Nya pada waktunya kelak. 

Oleh karena itu, dalam sebuah hadist Nabi ditanya sahabat " Sedekah pada bulan apa yang terbaik," Nabi bersabda, yakni pada Bulan Ramadhan. Ramadhan akan menjadi puasa kaum muslim dalam lebarannya kaum fakir miskin karena uluran tangan dari muzakki. Praktis, selama sebulan ini yang bergulir adalah ‘ekonomi sedekah’, yang pasti tidak akan memberikan ‘keuntungan materi’. Tapi, prilaku bersedekah disaat sempit dan lapang tersebut menunjukan bahwa manusia bukanlah binatang ekonomi. 

Mari manfaatkan Ramadhan dengan banyak bersedekah sebagai momentum spiritual. Dimana ketika pahala dilipatgandakan, doa-doa lebih mudah menembus langit, dan hati lebih lembut menerima nasihat. Maka, jika hari ini kita merasa harta kita terbatas, ingatlah sahabat Uqbah. Jika kita merasa belum kaya, ingatlah bahwa Allah tidak menunggu kita kaya untuk memberi pahala. Sedekah membawa senyuman bagi mustahiq dan membahagiakan muzakki.  

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari Bidang Penghimpunan Zakat Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com