Dr. Jamilah.M.Pd* Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi ISMI Perwakilan Provinsi Jambi.
Oleh : *Dr. Jamilah.M.Pd*
Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
ISMI Perwakilan Provinsi Jambi.
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah personal, melainkan juga ruang sosial yang mempertemukan nilai-nilai spiritual dengan praktik kebersamaan dan solidaritas. Di bulan suci ini, umat Islam tidak hanya diajak untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga untuk menajamkan empati, mempererat persaudaraan, dan menguatkan kepedulian terhadap sesama. Di Jambi, Ramadhan selalu hadir dengan nuansa yang khas hangat, akrab, dan sarat makna kebersamaan.
Kebersamaan dan solidaritas di bulan Ramadhan bukanlah konsep abstrak. Ia hidup dan berdenyut dalam tradisi, kebiasaan, serta aktivitas sosial masyarakat. Dari masjid hingga rumah-rumah warga, dari keluarga hingga komunitas, Ramadhan menjadi momentum kolektif untuk saling mendekatkan hati.
#Takamul : Merawat Kebersamaan dalam Kesederhanaan.
Salah satu tradisi yang mengakar kuat di Jambi adalah takamul, yaitu berbuka puasa bersama di masjid atau rumah warga. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi ruang perjumpaan sosial yang egaliter. Di dalamnya, perbedaan status sosial mencair; semua duduk sejajar, menikmati hidangan sederhana, dan berbagi cerita dalam suasana penuh kehangatan.
Takamul menumbuhkan rasa memiliki dan kebersamaan. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat interaksi sosial. Anak-anak, orang tua, kaum muda, dan lansia berkumpul, saling menyapa, dan memperkuat ikatan ukhuwah. Dalam suasana seperti ini, Ramadhan menjadi perekat sosial yang efektif di tengah kehidupan modern yang kerap individualistik.
#Moreh: Menguatkan Ikatan Keluarga dan Sosial.
Selain takamul, tradisi moreh, makan malam bersama keluarga dan teman-teman setelah tarawih, juga menjadi ciri khas Ramadhan di Jambi. Moreh adalah ruang intim untuk mempererat hubungan keluarga dan persahabatan. Di tengah kesibukan harian,
Ramadhan menghadirkan jeda yang memungkinkan keluarga duduk bersama, berbincang, dan saling mendengarkan.
Tradisi ini memiliki nilai sosial yang mendalam. Moreh memperkuat komunikasi antargenerasi, menumbuhkan rasa aman emosional, dan memperkaya pengalaman kebersamaan. Dalam keluarga yang hangat, nilai-nilai Ramadhan kesabaran, syukur, dan kepedulian ditanamkan secara alami dan berkelanjutan.
#Zakat Fitrah: Solidaritas yang Terlembagakan
Puncak solidaritas Ramadhan terwujud dalam pelaksanaan zakat fitrah. Zakat bukan hanya kewajiban individual, tetapi mekanisme sosial yang memastikan tidak ada anggota masyarakat yang tertinggal dalam kebahagiaan Idulfitri. Di Jambi, penyaluran zakat fitrah melalui masjid, lembaga amil, dan panitia lokal memperlihatkan kuatnya semangat berbagi.
Zakat fitrah menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga bermuara pada tanggung jawab sosial. Melalui zakat, umat Islam diajak untuk membersihkan harta sekaligus membersihkan relasi sosial dari ketimpangan. Lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional berperan penting memastikan zakat tersalurkan tepat sasaran dan berdampak nyata bagi mustahik.
#Kepedulian Sosial: Ramadhan yang Membumi.
Selain zakat, berbagai bentuk kepedulian sosial tumbuh subur di bulan Ramadhan. Bantuan kepada fakir miskin, pembagian makanan berbuka, santunan anak yatim, hingga donasi pakaian layak pakai menjadi pemandangan yang jamak. Organisasi kemasyarakatan, komunitas pemuda, dan kelompok majelis taklim bergerak bersama menjadikan Ramadhan sebagai bulan berbagi.
Aktivitas sosial ini menunjukkan bahwa solidaritas bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bertambah ketika dibagikan. Di sinilah nilai spiritual menemukan relevansinya dalam kehidupan sosial yang konkret.
#Ramadhan sebagai Modal Sosial Masyarakat Jambi.
Kebersamaan dan solidaritas yang terbangun selama Ramadhan merupakan modal sosial yang sangat berharga.
Modal sosial berupa kepercayaan, jaringan, dan norma gotong royong menjadi fondasi penting bagi ketahanan masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial, nilai-nilai Ramadhan membantu masyarakat Jambi tetap saling menopang.
Kebiasaan berkumpul, berbagi, dan peduli selama Ramadhan dapat menjadi inspirasi untuk praktik kehidupan sosial di bulan-bulan lainnya. Ketika nilai Ramadhan berlanjut, masyarakat akan lebih tangguh, inklusif, dan berkeadilan.
#Menjaga Spirit Ramadhan di Era Modern.
Di era digital dan urbanisasi, tantangan kebersamaan semakin besar. Gaya hidup serba cepat dan individualistik berpotensi mengikis interaksi sosial. Namun, Ramadhan hadir sebagai pengingat bahwa manusia membutuhkan kebersamaan. Tradisi takamul dan moreh, jika dirawat dengan kesadaran, dapat menjadi penyeimbang kehidupan modern.
Peran lembaga pendidikan, tokoh agama, dan organisasi sosial menjadi penting untuk menjaga spirit ini. Kampus, termasuk UIN, memiliki posisi strategis menumbuhkan kesadaran sosial melalui dakwah, pengabdian masyarakat, dan program berbasis nilai-nilai Ramadhan.
#Penutup
Ramadhan di Jambi adalah cermin indah kebersamaan dan solidaritas umat Islam. Melalui takamul, moreh, zakat fitrah, dan berbagai kegiatan sosial, Ramadhan menjadi ruang perjumpaan yang menguatkan ikatan kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa ibadah sejati adalah ibadah yang menghadirkan kedekatan dengan Tuhan dan dengan sesama.
Menjaga dan merawat kebersamaan Ramadhan berarti menjaga kekuatan sosial masyarakat. Ketika kebersamaan dan solidaritas tumbuh, masyarakat akan lebih mampu menghadapi tantangan zaman dengan hati yang lapang dan tangan yang saling menggenggam.
Referensi :
1. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2022). Panduan Ibadah Ramadhan.
2. Badan Amil Zakat Nasional. (2023). Laporan Pengelolaan Zakat.
3. Qardhawi, Y. (2011). Fiqh az-Zakah. Cairo: Dar al-Taqwa.
4. Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster.(*)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com